Showing posts with label Tetangga. Show all posts
Showing posts with label Tetangga. Show all posts

Thursday, 6 August 2015

Cerita Sex Terupdate - Memek Bu Lina Tetanggaku








Saya baru 2 tahun berumah tangga, tinggal di satu komplek real estate yang di pinggir Jakarta. Kompleksnya tidak terlalu besar, Rumah ku juga tidak terlalu besar yah ukuran 140 dan bangunan 100, karena sudah dikembangkan. Kami memang belum menginginkan anak karena diusia kami yang baru 24 dan istri 22 masih ingin menikmati masa muda. Hubungan kami tidak ada masalah . Istriku adalah yang kupacari sejak dia kelas 3 SMP dan perawannya ku jebol 6 bulan setelah pacaran.

Hubungan kami baik-baik saja dan dalam masalah sex kami sudah saling terbuka, jadi istri tidak malu-malu kalau dia lagi pengin

Istriku cukup cantik dengan kulit putih dan penampilannya masih seperti remaja. Sejak dia lulus D-3 dia belum pernah bekerja. Awalnya dia ingin juga kerja tetapi karena rumah kami jauh dari pusat kota, jadi dia akhirnya malas menempuh kemacetan setiap hari. Jadilah dia ibu rumah tangga yang anteng.

Kami bertetangga dengan pasangan yang usianya sudah di atas kami . Pak Bardi kutaksir berumur sekitar 35 tahun dan istrinya Bu Lina mungkin sekitar 28 tahun. Bu Lina pintar dalam hal masak memasak. Istriku akrab dengan Bu Lina, karena dia sering belajar masak dari Bu Lina.

Pasangan tetanggaku ini menurut pengamatanku adalah pasangan yang tidak seimbang. Pak Bardi perawakannya agak kurus dan tidak tinggi. Sedangkan Bu Lina adalah sosok wanita yang montok meski tidak termasuk gemuk. Kadang-kadang aku berpikir, apakah Pak Bardi sanggup melawan Bu Lina, yang kelihatannya kalau ngesek agak hot juga, karena dari penampilannya yang aktif dan bicaranya banyak. Sementara Pak Bardi perawakannya kecil dan penampilannya agak loyo.

Pernah juga aku tanya istriku mengenai apakah Bu Lina pernah cerita mengenai kehidupan sex mereka. Aku hanya penasaran aja melihat pasangan yang tidak seimbang itu. Dalam hatiku kok mau Bu Lina punya suami yang tampilannya tidak perkasa, padahal dia modelnya kaya Vina Panduwinata.

“Ih papa ada-ada aja, malu kali dia cerita-cerita gituan,” kata istriku.

Meski umur kami dengan pasangan Pak Bardi tidak terlalu terpaut jauh, tetapi Penampilannya yang lebih tua dari umurnya mendorong aku mersa pantas memanggil mereka Pak dan Bu. Mereka pun memangil kami mas dan mbak. Maklumlah kami memang sama sama bibit jawa.

Suatu hari Istriku menarik masuk kamar, katanya dia mau cerita penting. Ternyata yang diceritakannya adalah hasil ngrumpi dengan Bu Lina. Menurut pembicaraan ngrumpi mereka ternyata Pak Bardi sudah hampir 2 tahun tidak bisa ereksi, akibat penyakit gula. Pantas penampilannya agak loyo dan layu, pikirku dalam hati.

Padahal pasangan itu ingin punya keturunan dan mereka baru 3 tahun menikah.

Istriku dan Bu Lina sudah seperti kakak adik, mereka kompak sekali dan sering jalan bareng pergi belanja atau sekedar jalan-jalan ke Mall.

Aku juga cukup akrab dengan Pak Bardi, karena hobby kami sama yaitu main catur. Ada kalanya kami ngobyek bareng, jual tanah, jual rumah atau apa saja. Hasilnya sih lumayanlah untuk tambah-tambah up grade mobil.

Istriku jadi sering bercerita soal kehidupan sex keluarga Pak Bardi. Bu Lina katanya paling senang mendengar petualangan sex kami. Istriku memang agak-agak jahil, Dia senang sekali bercerita hal-hal yang membuat Bu Lina penasaran dan terangsang. Mungkin istriku senang melihat Bu Lina tersiksa oleh dorongan sexnya yang tidak tersalur. Kebahagiaan yang aneh. Kami memang sering mempraktekkan fantasi sex kami. Bahkan kami sering dirumah hanya bertelanjang saja. Rumah kami pagarnya tinggi, sehingga tidak bisa terlihat dari luar.

Hal itu malah diceritakan istriku ke Bu Lina. Kata istriku Bu Lina kadang-kadang sampai menangis karena keinginan sexnya tidak bisa tersalur. Istriku memang keterlaluan, dia bercerita lalu Bu Lina mendengarnya sampai terangsang berat, akhirnya dia menangis.

Aku nasihatkan istriku agar jangan menyiksa Bu Lina dengan cara itu, kasihan dia. “ Abis selalu dia yang minta aku bercerita soal-soal sex, aku sudah bilang nanti akan bikin susah ibu lho, tapi Bu Lina tetap maksa, ya jadi aku cerita aja.,” kata istriku polos.

Aku sudah minta kepada Lina agar dia mengajari cara-cara oral, sehingga meski Pak Bardi gak sanggup penetrasi, tapi masih bisa melayani istrinya dengan oral. “ sudah pa, Tapi Pak Bardi katanya cepet cape, jadi belum sampai Bu Lina Nyampe, pak Bardi udah bilang gak bisa nerusi karena kecapean.” Kata istriku.

Pak Bardi udah pasrah soal urusan sex dengan istrinya, malah katanya dia membolehkan istrinya cari kepuasan sex dengan orang lain asal jangan membawa penyakit. Tapi Bu Lina tipe wanita yang pemalu serta mencintai suaminya, dia tidak sanggup menuruti kebebasan yang diberikan Pak bardi.

Bu Lina berasal dari keluarga yang miskin di kampung, kehidupannya terangkat keatas setelah menjadi istri Bardi. Bahkan dia menunjang biaya orang tuanya dikampung . Pak Bardi memang tipe orang yang gigih dalam mencari uang, sehingga meskipun hidup di perumahan tipe dipinggir Jakarta gini, tapi mobilnya mentereng. Bu Lina juga dia belikan Honda Jazz. Mobil itulah yang sering digunakan bersama istriku jalan-jalan ke mall.

Aku sendiri hanya bisa punya Avanza, itupun nyicil dengan cicilan yang mati-matian aku usahakan agar tidak sampai telat.

“ Pa aku lama sekali ingin ngomong ke papa, tapi rasanya susah sekali keluarnya,” kata istriku suatu hari.

“ Ngomong apaan sih, kamu kan biasanya ceplas ceplos, kok jadi nervous gitu,” kata ku.

“ enggak pa ini karena masalahnya sensisitif,” kata istriku.

“Apaan sih,” kataku agak penasaran.

“ Gini lho pa, tapi janji jangan marah ya, papa harus bener-bener pegang janji lho,” kata istriku.

“ Ya deh , apaan sih bikin orang penasaran aja,” kataku.

“ Ah nggak jadi deh, susah ngomongnya sekarang,” kata istriku tiba-tiba.

Aku sudah mengenal wataknya yang senang membuat orang tersiksa karena penasaran.

“ Ya udah kalau gak jadi, aku mau main catur ke rumah Pak Bardi,” kata ku.

“ Eh jangan pak, iya deh aku cerita sekarang,” katanya.

“Gini lho pa, aku lama-lama kasian liat bu Lina, dia makin lama rasanya makin tersiksa, meskipun hartanya cukup dan suaminya selalu baik terhadap dia,”

“Selanjutnya,” kataku.

“Aku ingin menolong Bu Lina, papa setuju nggak,” katanya.

Aku belum bisa menangkap arah pembicaraan istriku , apa yang dia akan lakukan bagiku masih gelap.

“ Kalau kita bisa nolong ya lebih baguslah, mereka kan sering nolong kita juga,” kataku datar.

“Bener nih Pa, papa juga mau nolong mereka,” kata istriku serius.

“Ya iya lah,” kataku.

Lalu sambil mememeluk lenganku, istriku bercerita bahwa dia ingin aku sekali waktu membantu Bu Lina . Meskipun kata-katanya muter-muter, tapi singkatnya aku diminta melakukan hubungan dengan Bu Lina. Katanya Bu Lina sudah bersedia dan Pak Bardi juga mengizinkan bahkan sangat mendukung.

Rencana mereka ini ternyata sudah 3 bulan disusun, katanya tiap hari sibuk memikirkan strategi apa yang akan dilaksanakan. Masalah yang paling berat adalah menyampaikannya ke aku oleh istriku.

Aku tidak munafik sebagai laki-laki, Bu Lina adalah idamanku, sebagai variasi menu selain menu istriku. Tapi mana mungkin aku menggodanya , karena dia bersahabat dengan istriku. Eh sekarang malah istriku yang minta aku ngembat Bu Lina.

“ Apa benar mama gak keberatan berbagi dengan Bu Lina,” kataku meyakinkan.

“Nggak lah mama kasihan banget liat penderitaan Bu Lina, paling tidak kita bisa menyelamatkan keutuhan rumah tanga mereka, dari pada Bu Lina main sama orang yang gak jelas,” kata istriku.

“Ok lah selanjutnya bagaimana skenarionya, “ tanya ku.

Istriku bingung, karena ternyata skenario selanjutnya luput mereka susun. Sebab selama ini mereka berpikir keras bagaimana menyampaikan ke aku.

“ Belum ada skenario selanjutnya, ntar deh mama ngomong dulu ke Bu Lina, “ kata istriku.

Akhirnya aku berkeputusan untuk menemui Pak Bardi langsung dengan alasan main catur.

Begitu aku bertemu Pak Bardi, dia langsung aku salami dan ku katakan, aku siap menolong. Pak Bardi tidak sempat berpikir dan menyusun kata-kata dia langsung memelukku. “ Terima kasih ya mas, kita memang sudah seperti saudara,” katanya dengan mata agak berkaca-kaca.

“Ayo pak kita main catur lagi,

Kami pun terlibat serius main catur. Kali ini pertahanan Pak Bardi selalu lemah. “ Pak bapak koq gak kayak biasanya,” kataku.

“Gak tau dik, saya jadi sulit konsentrasi,” katanya.

Aku langsung menebak bahwa Pak Bardi pasti memikirkan cara memulai hubungan baru kami.

“Pak ini kan malam minggu, bagaimana kalau kitapesta barberque di rumah saya, sambil merayakan hubungan baru kita,” aku menawarkan solusi.

“ Ok juga tuh mas , biar saya yang siapkan semua bahan-bahannya, nanti biar ibu-ibu yang belanja, “ kata Pak Bardi lalu masuk kedalam menemui istrinya.

Aku lalu pamit pulang dan ingin istirahat tidur, untuk menyiapkan stamina, siapa tahu nanti malam sudah mulai dibuka hubungan ku dengan Bu Lina.

Istriku pamit, katanya mau belanja sama Bu Lina.

Jam 8 malam kami mulai menggelar pesta barberque di halaman belakang. Kami kekenyangan dan puas.

Aku menyarankan, acara dance party untuk dua pasang suami istri. Musik segera kupilih yang syahdu. Mulanya kami dance dengan pasangan kami masing-masing. Lampu memang sudah aku redupkan . Tapi lama-lama rasanya lampunya masih terlalu terang. Akhirnya semua lampu kumatikan, cahaya hanya mengandalkan lampu dari luar. Mulanya terasa sangat gelap, tetapi lama-lama mata kami mulai bisa menyesuaikan, meski pemandangan tidak begitu jelas. Istriku melontarkan ide agar kami bertukar pasangan dance. Istriku menarik tanganku dan dia menarik Bu Lina agar merapat ke badanku. Bu Lina mulanya agak canggung. Mungkin dipikirannya dia malu, karena soal keinginannya main denganku. Aku berusaha mencairkan suasana dengan langsung kupeluk Bu Lina. Bu Lina melemaskan badannya merapat ke tubuhku. Sementara itu istriku menarik tangan pak Bardi untuk juga turun melantai.

Lagunya mendukung sekali dan amat syahdu. Aku langsung melakukan serangan ke leher bu Lina. Leher dan telinganya menjadi sasaran ciumanku. Bu Lina agak terkejut, karena tidak menyangka mendapat serangan begitu cepat. Namun sebentar kemudian dia sudah pasrah. Sampai kami berdiri tidak bergerak. Aku merasa nafsu birahi Bu Lina sudah mulai meningkat , Bibirnya aku kecup dengan gerakan yang ganas. Aku memperlakukan Bu Lina dan menganggap di ruangan ini tidak ada orang lain. Bu Lina benar=benar terbuai dengan seranganku.

Begitu lagu selesai, istriku bertepuk kecil. Bu Lina kaget dan dia malu. Kami lalu duduk di sofa. Aku berpasangan dengan Bu Lina dan Istriku dengan pak Bardi. Kami istriahat dengan menenggak bir dingin.

“Sekarang party kita tingkatkan dengan Lingerie party,” kata istriku yang langsung mencopot semua baju luarnya. Pak Bardi ragu-ragu tapi dia ikut-ikutan juga membuka baju luarnya, hingga tinggal celana dalam koloran dan singlet. Aku membuka semua kecuali celana dalamku.

Bu Lina agak malu, sehingga terpaksa dibantu istriku yang sudah memakai BH dan celana dalam saja.

Cerita Sex Terupdate - Mantapnya memek Vivi, Istri Cantik Tetangga








Perkenalkan nama saya Nendi umur 29 tahun, saya bekerja di sebuah hotel berbintang tiga di kota “B”. Seperti kebanyakan orang bekerja yang kadang membuat kita jenuh, untuk mengatasinya aku sering mengunjungi situs XXX ini, sampai akhirnya saya terobsesi untuk menulis cerita ini.











Cerita ini berawal dari pulang kemalaman dengan seorang sekretaris teman sekantor di bagian lain, namanya Vivi berperawakan sintal dengan kulit putih dan tinggi badan yang sedang-sedang saja sekitar 165 cm. Sebetulnya Vivi bukanlah tipe orang yang ramah walaupun dia seorang sekretaris, mungkin karena om-nyalah dia ada di posisi tersebut. Oh ya, Vivi juga sudah menikah kira-kira satu setengah tahun yang lalu, dan saya pernah beberapa kali ketemu dengan suaminya.


Pagi itu pada saat jam masuk kantor aku berpapasan dengannya di pintu masuk, seperti biasa kita saling tersenyum dan mengucapkan selamat pagi. Ah lucu juga kita yang sudah kenal beberapa tahun masih melakukan kebiasaan seperti itu, padahal untuk hitungan waktu selama tiga tahun kita harus lebih akrab dari itu, tapi mau bagaimana lagi karena Vivi orangnya memang seperti itu jadi akupun terbawa-bawa, aku sendiri bertanya-tanya apakah sifatnya yang seperti itu hanya untuk menjaga jarak dengan orang-orang di lingkungan kerja atau memang dia punya pembawaan seperti itu sejak lahir.


Mungkin saat itu aku sedang ketiban mujur, tepat di pintu masuk entah apa penyebabnya tiba-tiba saja Vivi seperti akan terjatuh dan refleks aku meraih tubuhnya dengan maksud untuk menahan supaya dia tidak benar-benar terjatuh, tapi tanpa sengaja tanganku menyentuh sesuatu di bagian dadanya. Setelah dapat berdiri dengan sempurna Vivi memandang ke arahku sambil tersenyum, ya ampun menurutku itu merupakan sesuatu yang istimewa mengingat sifatnya yang kuketahui selama ini.


“Terima kasih Pak nendi, hampir saja aku terjatuh.”


“Oh, nggak apa-apa, maaf barusan tidak sengaja.”


“Tidak apa-apa.”


Seperti itulah dialog yang terjadi pagi itu. Walaupun nggak mau mikirin terus kejadian tersebut tapi aku tetap merasa kurang enak karena telah menyentuh sesuatu pada tubuhnya walaupun nggak sengaja, waktu kutengok ke arah meja kerjanya melalui kaca pintu ruanganku dia juga kelihatannya kepikiran dengan kejadian tersebut, untung waktu masuk kerja masih empat puluh lima menit lagi jadi belum ada orang, seandainya pada saat itu sudah banyak orang mungkin dia selain merasa kaget juga akan merasa malu.


Aku kembali melakukan rutinitas keseharian menggeluti angka-angka yang yang nggak ada ujungnya. Sudah kebiasaanku setiap tiga puluh menit memandang gambar panorama yang kutempel dikaca pintu ruanganku untuk menghindari kelelahan pada mata, tapi ternyata ada sesuatu yang lain di seberang pintu ruanganku pada hari itu, aku melihat Vivi sedang memandang ke arah yang sama sehingga pandangan kami bertemu. Lagi, dia tersenyum kearahku, aku malah jadi bertanya-tanya ada apa gerangan dengan cewek itu, aku yang geer atau memang dia jadi lain hari ini, ah mungkin hanya pikiranku saja yang ngelantur.


Jam istirahat makan seperti biasa semua orang ngumpul di EDR untuk makan siang, dan suatu kebetulan lagi waktu nyari tempat duduk ternyata kursi yang kosong ada di sebelah Vivi, akhirnya aku duduk disana dan menyantap makanan yang sudah kuambil. Setelah selesai makan, kebiasaan kami ngobrol ngalor-ngidul sambil menunggu waktu istirahat habis, karena aku duduk disebelah dia jadi aku ngobrol sama dia, padahal sebelumnya aku males ngobrol sama dia.


“Gimana kabar suaminya vi?” aku memulai percakapan


“Baik pak.”


“Trus gimana kerjaannya? masih di tempat yang dulu?”


“Sekarang sedang meneruskan studi di amerika, baru berangkat satu bulan yang lalu.”


“Oh begitu, baru tahu aku.”


“Ingin lebih pintar katanya pak.”


“Ya baguslah kalau begitu, kan nantinya juga untuk mesa depan berdua.”


“Iya pak.”


Setelah jam istirahat habis semua kembali ke ruangan masing-masing untuk meneruskan kerjaan yang tadi terhenti. Akupun kembali hanyut dengan kerjaanku.


Pukul setengah tujuh aku bermaksud beres-beres karena penat juga kerja terus, tanpa sengaja aku nengok ke arah pintu ruanganku ternyata Vivi masih ada di mejanya. Setelah semua beres akupun keluar dari ruangan dan bermaksud untuk pulang, aku melewati mejanya dan iseng aku nyapa dia.


“Kok tumben hari gini masih belum pulang?”


“Iya pak, ini baru mau pulang, baru beres, banyak kerjaan hari ini”


Aku merasakan gaya bicaranya lain hari ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang kalau bicara selalu kedengaran resmi, yang menimbulkan rasa tidak akrab.


“Ya udah kalo begitu kita bareng aja.” ajakku menawarkan.


“Tidak usah pak, biar aku pulang sendiri saja.”


“Nggak apa-apa, ayo kita bareng, ini udah terlalu malam.”


“Baik Pak kalau begitu.”


Sambil berjalan menuju tempat parkir kembali kutawarkan jasa yang walaupun sebetulnya niatnya hanya iseng saja.


“Gimana kalo vivi bareng aku, kita kan searah.”


“Nggak usah pak, biar aku pakai angkutan umum atau taksi saja.”


“Lho, jangan gitu, ini udah malem, nggak baik perempuan jalan sendiri malem-malem.”


“Baik kalau begitu pak.”


Di sepanjang jalan yang dilalui kami tidak banyak bicara sampai akhirnya aku perhatikan dia agak lain, dia kelihatan murung, kenapa ini cewek.


“Lho kok kelihatannya murung, kenapa?” tanyaku penasaran.


“Nggak apa-apa pak.”


“Nggak apa-apa kok ngelamun begitu, perlu teman buat ngobrol?” tanyaku memancing.


“Nggak ah pak, malu.”


“Kok malu sih, nggak apa-apa kok, ngobrol aja aku dengerin, kalo bisa dan perlu mungkin aku akan bantu.”


“Susah mulainya pak, soalnya ini terlalu pribadi.”


“Oh begitu, ya kalo nggak mau ya nggak usah, aku nggak akan maksa.”


“Tapi sebetulnya memang aku perlu orang untuk teman ngobrol tentang masalah ini.”


“Ya udah kalo begitu obrolin aja sama aku, rahasia dijamin kok.”


“Ini soal suami aku pak.”


“Ada apa dengan suaminya?”


“Itu yang bikin aku malu untuk meneruskannya.”


“Nggak usah malu, kan udah aku bilang dijamin kerahasiaannya kalo vivi ngobrol ke aku.”


“Anu, aku sering baca buku-buku mengenai hubungan suami istri.”


“Trus kenapa?”


“aku baca, akhir dari hubungan badan antara suami istri yang bagus adalah orgasme yang dialami oleh keduanya.”


“Trus letak permasalahannya dimana?”


“Mengenai orgasme, aku sampai dengan saat ini aku hanya sempat membacanya tanpa pernah merasakannya.”


Aku sama sekali nggak pernah menduga kalo pembicaraannya akan mengarah kesana, dalam hati aku membatin, masa sih kawin satu setengah tahun sama sekali belum pernah mengalami orgasme? timbul niatku untuk beramal:-)


“Masa sih vi, apa betul kamu belum pernah merasakan orgasme seperti yang barusan kamu bilang?”


“Betul pak, kebetulan aku ngobrolin masalah ini dengan bapak, jadi setidaknya bapak bisa memberi masukan karena mungkin ini adalah masalah laki-laki.”


“Ya, gimana ya, sekarang kan suami vivi lagi nggak ada, seharusnya waktu suami vivi ada barengan pergi ke ahlinya untuk konsultasi masalah itu”


“Pernah beberapa kali aku ajak suami aku, tapi menolak dan akhirnya kalau aku singgung masalah itu hanya menimbulkan pertengkaran diantara kami.”


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan tanpa terasa pula kami sudah sampai didepan rumah Vivi, Aku bermaksud mengantar dia sampai depan pintu rumahnya.


“Tidak usah pak, biar sampai sini saja.”


“Nggak apa-apa, takut ada apa-apa biar aku antar sampai depan pintu.”


Dasar, kakiku menginjak sesuatu yang lembek ditanah dan hampir saja terpeleset karena penerangan di depan rumahnya agak kurang. Setelah sampai di teras rumahnya kulihat kakiku, ternya yang kunjak tadi adalah sesuatu yang kurang enak untuk disebutkan, sampai-sampai sepatuku sebelah kiri hampir setengahnya kena.


“Aduh Pak nendi, gimana dong itu kakinya.”


“Nggak apa-apa, nanti aku cuci kalo udah nyampe rumah.”


“Dicuci disini aja pak, nanti nggak enak sepanjang jalan kecium baunya.”


“Ya udah, kalo begitu aku ikut ke toilet.”


Setelah membersihkan kaki aku dipersilahkan duduk di ruang tamunya, dan ternyata disana sudah menunggu segelas kopi hanngat. Sambil menunggu kakiku kering kami berbincang lagi.


“Oh ya vi, mengenai yang kamu ceritakan tadi di jalan, gimana cara kamu mengatasinya?”


“aku sendiri bingung Pak harus bagaimana.”


Mendengar jawaban seperti itu dalam otakku timbul pikiran kotor lelaki.


“Gimana kalau besok-besok aku kasih apa yang kamu pengen?”


“Yang aku mau yang mana pak.”


“Lho, itu yang sepanjang jalan kamu bilang belum pernah ngalamin.”


“Ah bapak bisa aja.”


“Bener kok, aku bersedia ngasih itu ke kamu.”


Termenung dia mendengar perkataanku tadi, melihat dia yang sedang menerawang aku berpikir kenapa juga harus besok-besok, kenapa nggak sekarang aja selagi ada kesempatan.


Kudekati dia dan kupegang tangannya, tersentak juga dia dari lamunannya sambil menatap kearahku dengan penuh tanda tanya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan kukecup pipi sebelah kanannya, dia diam tidak bereaksi. Ku kecup bibirnya, dia menarik napas dalam entah apa yang ada dipikirannya dan tetap diam, kulanjutkan mencium hidungnya dan dia memejamkan mata.


Ternyata napsu sudah menggerogoti kepalaku, kulumat bibirnya yang tipis dan ternyata dia membalas lumatanku, bibir kami saling berpagut dan kulihat dia begitu meresapi dan menikmati adegan itu. Kitarik tangannya untuk duduk disebelahku di sofa yang lebih panjang, dia hanya mengikuti sambil menatapku. Kembali kulumat bibirnya, lagi, dia membalasnya dengan penuh semangat.


Dengan posisi duduk seperti itu tanganku bisa mulai bekerja dan bergerilya. Kuraba bagian dadanya, dia malah bergerak seolah-olah menyodorkan dadanya untuk kukerjain. Kuremas dadanya dari luar bajunya, tangan kirinya membuka kancing baju bagian atasnya kemudian membimbing tangan kananku untuk masuk kedalam BHnya. Ya ampun bener-bener udah nggak tahan dia rupanya.


Kulepas tangan dan bibirku dari tubuhnya, aku berpindah posisi bersandar pada pegangan sofa tempatku duduk dan membuka kalkiku lebar-lebar. Kutarik dia untuk duduk membelakangiku, dari belakang kubuka baju dan BHnya yang saat itu sudah nempel nggak karuan, kuciumi leher bagian belakang Vivi dan tangan kiri kananku memegang gunung di dadanya masing-masing satu, dia bersandar ketubuhku seperti lemas tidak memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri dan mulai kuremas payudaranya sambil terus kuciumi tengkuknya.


Setelah cukup lama meremas buah dadanya tangan kiriku mulai berpindah kebawah menyusuri bagian perutnya dan berhenti di tengah selangkangannya, dia melenguh waktu kuraba bagian itu. Kusingkap roknya dan tanganku langsung masuk ke celana dalamnya, kutemukan sesuatu yang hangat-hangat lembab disana, sudah basah rupanya. Kutekan klitorisnya dengan jari tengah tangan kiriku.


“Ohh .. ehh ..”


Aku semakin bernapsu mendengan rintihannya dan kumasukkan jariku ke vaginanya, suaranya semakin menjadi. Kukeluar masukkan jariku disana, tubuhnya semakin melenting seperti batang plastik kepanasan, terus kukucek-kucek semakin cepat tubuhnya bergetar menerima perlakuanku. Dua puluh menit lamanya kulakukan itu dan akhirnya keluar suara dari mulutnya.


“Udah dulu pak, aku nggak tahan pengen pipis.”


“Jangan ditahan, biarkan aja lepas.”


“Aduh pak, nggak tahan, vivi mau pipis .. ohh .. ahh.”


Badanya semakin bergetar, dan akhirnya.


“Ahh .. uhh.”


Badanya mengejang beberapa saat sebelum akhirnya dia lunglai bersender kedadaku.


“Gimana vi rasanya?”


“Enak pak.”


Kulihat air matanya berlinang.


“Kenapa kamu menangis vi.”


Dia diam tidak menyahut.


“Kamu nyesel udah melakukan ini?” tanyaku.


“Bukan pak.”


“Lantas?”


“aku bahagia, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku idam-idamkan selama ini yang seharusnya datang dari suami aku.”


“Oh begitu.”


Kami saling terdiam beberapa saat sampai aku lupa bahwa jari tengah tangan kiriku masih bersarang didalam vaginanya dan aku cabut perlahan, dia menggeliat waktu kutarik jari tanganku, dan aku masih tercenung dengan kata-kata terakhir yang terlontar dari mulutnya, benar rupanya .. dia belum pernah merasakan orgasme.


“Mau ke kamar mandi pak?”


Tiba-tiba suara itu menyadarkanku dari lamunan ..


“Oh ya, sebelah mana kamar mandinya?”


“Sebelah sini pak”, sahutnya sambil menunjukkan jalan menuju kamar mandi.


Dia kembali ke ruang tamu sementara aku mencuci bagian tangan yang tadi sudah melaksanakan tugas sebagai seorang laki-laki terhadap seorang perempuan. Tak habisnya aku berpikir, kenapa orang berumah tangga sudah sekian lama tapi si perempuan baru mengalami orgasme satu kali saja dan itupun bukan oleh suaminya.


Selesai dari kamar mandi aku kembali ke ruang tamu dan kutemukan dia sedang melihat acara di televisi, tapi kulihat


dari wajahnya seakan pikirannya sedang menerawang, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu.


“Vi, udah malam nih, saya pulang dulu ya ..”


Terhenyak dia dan menatapku ..


“Emm, pak, mau nggak malam ini nemanin vivi?”


Kaget juga aku menerima pertanyaan seperti itu karena memang tidak pikiran untuk menginap dirumahnya malam ini, tapi aku tidak mau mengecewakan dia yang meminta dengan wajah mengharap.


“Waktu kan masih banyak, besok kita ketemu lagi di kantor, dan kapan-kapan kita masih bisa ketemu diluar kantor.”


Dia berdiri dan menghampiriku ..


“Terima kasih ya pak, vivi sangat bahagia malam ini, saya harap bapak tidak bosan menemani saya.”


“Kita kan kenal sudah lama, saya selalu bersedia untuk membantu kamu dalam hal apapun.”


“Sekali lagi terima kasih, boleh kalau mau pulang sekarang dan tolong sampaikan salam saya buat ibu.”


Akhirnya aku pulang dengan terus dihinggapi pertanyaan didalam pikiranku, kenapa dia bisa begitu, kasihan sekali dia.


Seperti biasa esoknya aku masuk kantor pagi-pagi sekali karena memang selalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kupikir belum ada siapa-siapa karena biasanya yang sudah ada saat aku datang adalah office boy, tapi ternyata pagi itu aku disambut dengan senyuman vivi yang sudah duduk di meja kerjanya. Tidak seperti biasa, pada hari-hari sebelumnya aku selalu melihat vivi dalam penampilan yang lain dari pagi ini, sekarang dia terlihat berseri dan terkesan ramah dan akrab.


“Pagi vi.”


“Pagi pak.”


“Gimana, bisa tidur nyenyak tadi malam?”


“Ah bapak, bisa aja, tadi malam saya tidur pulas sekali.”


“Ya sudah, saya tinggal dulu ya, selamat bekerja.”


“Iya pak.”


Aku meneruskan langkahku menuju ruang kerjaku yang memang tidak jauh dari meja kerjanya, dari dalam ruangan kembali aku menengokkan wajah ke arahnya, ternyata dia masih menatapku sambil tersenyum.


Tidak seperti biasanya, aku merasakan hari ini bekerja merupakan sesuatu yang membosankan, suntuk rasanya menghadapi pekerjaan yang memang dari hari ke hari selalu saja ada sesuatu yang harus diulang, akhirnya aku menulis cerita ini. HP didalam saku celanaku berbunyi, ada SMS yang masuk, kubuka SMS tersebut yang rupanya datang dari cewek diseberang ruanganku yang tadi pagi menatapku sampai aku masuk ke ruangan ini .. ya dia, vivi.


“Pak, nanti mlm ada acara gak? kalo tidak bisa gak bapak menuhin janji bapak tadi malam.”


Begitulah isi SMS yang kuterima, aku berpikir agresif juga nih cewek pada akhirnya. Kuangkan telepon yang ada diatas meja kerjaku dan kutekan nomor extensin dia.


“Kenapa gitu vi, mau ngajak kemana?”


“Eh bapak, kirain siapa, enggak, vivi udah nyediain makan malam di rumah, bapak bisa kan makan malam sama vivi nanti malam?”


“Boleh, kalau gitu nanti pulang saya tunggu di ruang parkir ya.”


“Iya pak, ma kasih.”


Sore hari aku terkejut karena waktu pulang sudah terlewat sepuluh menit, bergegas kubereskan ruanganku dan berlari menuju ruang parkir. Disana vivi sudah menungguku, tapi dia tersenyum waktu melihatku datang, tadinya kupikir dia akan kecewa, tapi syukurlah kelihatanyya dia tidak kecewa.


“Maaf jadi nunggu ya vi, harus beres-beres sesuatu dulu.”


“Nggak apa-apa pak, vivi juga barusan ada yang harus diselesaikan dulu dengan neni.”


“Yo.” kataku sambil membukkan pintu untuk dia, dan dia masuk kedalam mobil kemudian duduk disebelahku.


Diperjalanan kami ngobrol kesana kemari, dan tanpa terasa akhirnya kami masuk ke komplek perumahan dimana vivi tinggal lalu kami turun menuju ke rumahnya. Dia membuka pintu depan rumahnya dengan susah, rupanya ada masalah dengan kunci pintu tersebut. Aku tidak berusaha membantunya, karena dari belakang baru kuperhatikan kali ini kalau bagian tengah belakang milik vivi menarik sekali, lingkarannya tidak terlalu besar, tapi aku yakin laki-laki akan suka bila melihatnya dalam keadaan setengah berjongkok seperti itu.


Akhirnya pintu terbuka juga dan dia mempersilakan aku masuk, dan kamipun masuk. Setelah mempersilakan aku untuk duduk, dia pergi ke kamarnya, setelah itu dia kembali lagi dengan pakaian yang sudah digantinya, dia tidak langsung menghampiriku tapi terus melangkah ke arah dapur dan kembali dengan segelas air putih dan segelas kopi, lalu dia menyodorkan kopi tersebut kepadaku.


“Wah enak sekali nih hari gini minum kopi, kamu kok nggak minum kopi juga vi?”


“Saya nggak pernah minum kopi pak, nggak boleh sama si mas.”


“Oh gitu.”


“Pak mobilnya dimasukin garasi aja ya, biar vivi yang mindahin.”


“Bolah, sekalian saya mau ikut ke kamar mandi dulu, badan rasanya nggak enak kalau masih ada keringatnya.”


“Handuknya ada di kamar mandi pak.”


Dia berdiri sambil menerima kunci mobil yang kuserahkan sedangkan aku ngeloyor ke kamar mandi untuk terus membersihkan badan yang memang rasanya agak nggak enak setelah barusan diperjalanan dihadapkan ke kondisi jalan yang cukup macet tidak seperti biasa.


Keluar dari kamar mandi kudapati vivi kelihatan sedikit bingung, kutanya dia,


“Kenapa vi, kok seperti yang bingung begitu ..”


“Anu pak, barusan ada telepon dari restoran yang saya pesani untuk makan malam, katanya nggak bisa nganter makanan yang dipesan karena kendaraannya nggak ada.”


“Ya sudah nggak apa-apa, kita kan bisa bikin makanan sendiri, punya apa yang bisa dimasak?”


“Adu pa, vivi jadi malu.”


“Udah nggak apa-apa kok, malah jadi bagus kita bisa masak barengan.”


Kataku sambil tersenyum, vivi melangkahkan kakinya menuju dapur dan kuikuti, sampai didapur dia membuka lemari es yang ternyata hanya ada sedikit makanan yang siap masak disana. Akhirnya kami masak masakan seadanya sambil berbincang kesana kemari.


Tanpa sengaja aku perhatikan postur tubuh vivi yang terlihat lain dengan pakaian yang dikenakan sekarang, pakaian yang sedikir agak ketat menyebabkan lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas, sungguh bentuk tubuh yang sempurna untuk wanita seusia dia. Tanpa sadar kuhampiri dia dan dari belakang kupeluk dia yang sedang melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, dia menoleh kearahku dan tersenyum, kudekatkan bibirku ke bibirnya dan dia menyambutnya, awalnya hanya ciuman biasa sampai akhirnya kami saling berpagutan disini, ya di dapur miliknya.


Berlanjut terus pergulatan bibir tersebut, kuraba buah dadanya dan kuremas dari luar bajunya. Tangan vivi bergerak membuka kancing baju bagian depan dilanjutkan dengan menyingkapkan BH yang dia pakai, dengan demikian tanganku kiri kanan lebih leluasa meremasnya. Beberapa saat kemudian kulepaskan bibirku dari bibirnya dan kuarahkan ke buah dadanya yang terlihat sungguh indah dengan warna puting yang kemerahan, kujilat puting yang sebelah kanan dan dia menarik nafas dalam menerima perlakuan itu, akhirnya kukulum puting itu dan kuhisap dalam-dalam sambil tangan kananku tetap meremas dadanya yang sebelah kiri.


Tangan kiriku kugerakkan ke arah pantatnya, dan kuremas pantat yang kenyal itu. Kumasukkan tangan itu ke dalam rok yang dia pakai dan disana kuraba ada sesuatu yang hangat dan sedikit basah dan kuraba-raba bagian itu terus menerus. Rupanya dia tidak tahan menerima sikapku itu, tangannya bergerak membuka resleting roknya dan melorotkannya kebawah. Aku hentikan kegiatan bibirku di buah dadanya lalu bubuka celana dalamnya dan kutemukan bulu indah yang tidak terlalu banyak disana kusingkapkan sedikit dan kuarahkan bibirku kesana dan kujilat bagian kecil yang menonjol disana.


Suara lenguhan dari bibirnya sudah tidak terbayangkan lagi, akan memperpanjang cerita kalau saya tuliskan disini.


“Oh, pak, saya belum pernah merasakan ini, oh ..”


Aku terus melanjutkan kegiatan lidahku diselangkangannya sambil terus memasukkan lidah ini kedalam gua lembab yang berbau khas milik wanita. Lenguhan demi lenguhan terus keluar dari mulutnya sampai akhirnya kurasakan tubuhnya mengejang dan bergetar dengan mengeluarkan teriakan yang tidak bisa ditahan dari mulutnya, dia sudah sampai ke puncak kenikmatan sentuhan seorang lelaku seperti aku ini, dan akhirnya kuhentikan kegiatanku itu lalu berdiri menghadap dia, danpa kuduga dia mencium bibirku.


“Pak kita ke kamar ya.”


Dia menuntunku masuk ke kamar tidurnya, kamar itu terlihat rapi, lalu kami duduk dipinggir tempat tidur dan kembali saling berpagutan disana. Dia bangkit berdiri dihadapanku seraya bertanya.


“Boleh saya buka pakaian bapak?”


Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut, lalu dia membuka seluruh pakaian yang kukenakan sampai ke celana dalamku. Dia memegang senjataku yang dia dapati dibalik celana dalam yang baru saja terbuka, lalu dia menciumnya dan menjilatinya, nikmat sekali rasanya.


“Dari dulu saya ingin melakukan ini, tapi suami saya nggak pernah mau diperlakukan begini.”


Dia berkata begitu sambil kembali meneruskan kegiatannya menjilati senjata milikku, tanpa kuduga dia lanjutkan kegiatannya tadi dengan mengulum dan menyedot batang kemaluanku, dan rasanya lebih nikmat dari yang tadi kurasakan. Akhirnya dia berhenti berlaku seperti itu dan berkata.


“Pak, tidurin vivi ya.”


Tanpa menunggu permintaan itu terulang aku baringkan tubuhnya diatas tempat tidur, aku ciumi sekujur tubuhnya yang dibalas dengan gelinjangan tubuh mulus itu, akhirnya setelah sekian lama kucoba masukkan kemaluanku kedalam lubang senggama yang memang sudah basah dari sejak tadi, dan “Ahh ..” itulah yang keluar dari mulut vivi, sungguh nikmat sekali rasanya memasuki tubuh yang telanjang ini, dan satu lagi, lubang kemaluannya masih terasa cukup sempit dan menggigit, terbersit lam pikiranku sebuah pertanyaan, sebesar apa milik suaminya sampai lubang ini masih terasa sempit seperti ini.


Kuperhatikan jam yang ada di dinding kamarnya menunjukkan bahwa aku sudah mengeluar masukkan kemaluanku kedalam tubuhnya selama dua puluh menit dan akhirnya kembali kurasakan tubuhnya mengejang sambil mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya, akhirnya dia menggelepar sambil memeluk tubuhku erat-erat seolah tidak ingin lepas dari tubuhnya, karena pelukannya itu aku jadi terhenti dari kegiatanku.


Beberapa saat kemudian vivi melepaskan pelukannya dan terkulai lemas, tapi aku melihat sebuah senyuman puas diwajahnya dan itu membuat aku merasa puas karena malam ini dia sudah dua kali mendapatkan apa yang selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya.


“Gimana vi?”


“Aduh, vivi lemas tapi tadi itu nikmat sekali ..”


“Vivi mau coba gaya yang lain?”


“Emm ..”


Kubangunkan tubuhnya dan kugerakkan untuk membelakangiku, kudorong pundaknya dengan pelan sampai dia menungging dihadapanku, kumasukkan kejantananku kedalam lubang senggamanya dan dia mengeluarkan teriakan kecil.


“Aduh .. Pak enak sekali, dorong terus pak, vivi belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini ..”


Aku keluar masukkan kemaluanku ini kedalam tubuhnya dengan irama yang semakin lama semakin kupercepat, lama juga aku melakukan itu sampai akhirnya dia berkata “Pak vivi mau pipis lagi ..”, semakin kupercepat gerakanku karena kurasakan ada sesuatu yang mendorong ingin keluar dari dalam tubuhku.


Dalam kondisi lemas dan masih menungging vivi menerima gerakan maju mundur dariku, mungkin dia tahu kalau aku sebentar lagi mencapai klimaks, dan akhirnya menyemburlah cairan dari kemaluanku masuk semua kedalam tubuhnya. Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuhku lemas bagai tak bertulang dan kucabut senjataku dari lubang milik vivi.


Aku terbaring disampingnya setelah melepaskan nikmat yang diada tara, dia tersenyum puas sambil menatapku dan memelukku, lalu kami tertidur dengan perasaan masing-masing. Dalam tidur aku memimpikan kegiatan yang barusan kami lakukan dan waktu hampir pagi aku terbangun kudapati vivi masih terpejam dengan wajah yang damai sambil masih memelukku, kulepaskan pelukkannya dan dia terbangun, lalu kami meneruskan kegiatan yang tadi malam terpotong oleh tidur sampai akhirnya kami berdua bangun dan menuju kamar mandi dalam keadaan masing-masing telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh kami.


Dikamar mandi kami melakukannya lagi, dan kembali dia mengucapkan kata-kata yang tidak habis aku bisa mengerti “Vivi belum pernah melakukan seperti ini sebelumnya ..”.


Akhirnya kami berangkat kerja dari rumah vivi, sengaja masih pagi agar tidak ada orang di kantor yang melihat kedatangan kami berdua untuk menghindari sesuatu yang kami berdua tidak inginkan.


Sampai saya menulis cerita ini, masih tetap terngiang kata-katanya yang sering mengucapkan kata-kata “Vivi belum pernah melakukan seperti ini sebelumnya ..” setiap saya berhubungan dengan dia dengan gaya yang lain.


Berawal dari situlah kami sering melakukan hubungan suami istri, dan itu selalu kami lakukan atas permintaan dari dia, aku sendiri tidak pernah memintanya karena aku tidak mau dia punya pikiran seolah-olah aku mengeksploitir dia. Dan sekarang vivi yang kukenal jauh berbeda dari vivi yang dulu, dia menjadi orang yang ramah dan selalu tersenyum kepada semua orang dilingkungannya.

Disqus for lences gaul