Showing posts with label selingkuh. Show all posts
Showing posts with label selingkuh. Show all posts

Thursday, 6 August 2015

Novi Amelia Jadi Istri Simpanan ?


Lelaki mana yang tidak tertarik dengan model cantik Novi Amelia ini ? Pose seksinya yang hanya mengenakan bikini memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang mulus membuat Kaum lelaki menelan ludah.Foto-foto hotnya sudah lama beredar di internet dan menjadi objek masturbasi Lelaki kesepian.Kecantikan Novi tentunya banyak menarik Lelaki berduit untuk berlomba-lomba mendapatkannya.Beruntung sekali Lelaki yang bisa menjadikan Novi Amelia sebagai Istri simpanannya.Di saat lelaki lain hanya bisa bermasturbasi melihat kemolekan tubuh Novi,lelaki ini dengan leluasa menggumuli tubuh molek Novi Amelia.Tentu saja sensasi berejakulasi di dalam vagina Novi Amelia sangat berbeda jika berejakulasi dengan tangan sendiri walaupun harus dibayar mahal.

Novie Amelia 001 Novie Amelia 002 Novie Amelia 003

Novie Amelia 003a Novie Amelia 004 Novie Amelia 004a

Novie Amelia 005 Novie Amelia 006 Novie Amelia 007

Novie Amelia 008 Novie Amelia 0010 Novie Amelia 0011

Novie Amelia 0012 Novie Amelia 0013 Novie Amelia 0016

Novie Amelia 0017 Novie Amelia 0018 Novie Amelia 0019

Novie Amelia 0020 Novie Amelia 0021 Novie Amelia 0022

Novie Amelia 0023 Novie Amelia 0024

Kabar Novi Amelia menjadi wanita simpanan mencuat setelah pihak polisi mengetahui tempat tinggalnya. Di mana Novie selama ini diketahui tinggal di apartemen mewah Sudirman Park, Jalan KH. Mas Mansur Kav. 35, Karet Tengsin, Jakarta Barat. Pasalnya, apartemen Novi itu memiliki harga jual mencapai Rp 1,6 milyar, atau sewa per bulan Rp 9,5 juta. Dan setahunnya bisa mencapai Rp 100 juta. Dari mana Novi bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Padahal, Novi hanya merupakan seorang model yang sudah tidak aktif sejak 2010 lalu. Banyak yang menduga bahwa biaya hidup dan apartemen Novi itu dikeluarkan oleh pejabat yang menjadi pacar Novi. Novi juga disebutkan menjalin hubungan gelap dengan seorang pengusaha di Jakarta.

Cerita XXX Terbaru - Ngentot dengan kakak pacarku



Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang sana memanggil.


“Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih sana.”


“Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai jam berapa?”


“Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah.”





Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja, kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.


Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina, pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi, aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu.


Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina, untuk membuka pintu.


“Loh, enggak kerja?” tanyaku.


“Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor,” jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.


“Nyokap ke mana?” tanyaku lagi.


“Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan,” kata Marta, “Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton TV juga boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah, saya ambilin minum.”


Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton TV bersama Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.


Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya putih menguning.


Marta memang sedang menonton TV di lantai dengan kaki berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton TV. Kalau aku melongokkan kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.


Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu, biar hanya sepintas. Aku berdiri.


“Ta, ada koran enggak yah,” kataku sambil berdiri memasuki ruang tamu.


“Lihat aja di bawah meja,” katanya sambil lalu.


Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua. Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dengan pasnya.


“Aku ingin dada itu,” kataku membatin. Aku membayangkan Marta dalam keadaan telanjang. Ah, ‘adikku’ bergerak melawan arah gravitasi.


“Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina lho!,” Marta menghardik.


Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.


“Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!”


“Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka,” kataku tergagap. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam.


“Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!” katanya setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.


“Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya enggak bermaksud apa-apa,” aku sedikit memohon.


“Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil koran di bawah meja, baru saya liat elu,” kataku mengiba sambil mendekatinya.


Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya.


“Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!,” katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah membuatnya panik.


“Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa, beneran,” kataku.


Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangan kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh, aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin runyam.


“Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu? Lepasin enggak!!,” kata Marta.


Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya. Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan. Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih tubuh halus itu.


Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya. Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dengan lembut.


Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta. Marta berteriak, “Lepasin! Lepasin!” dengan paraunya. Waduh, runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha memekik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, “Hmm!” saja. Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.


Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa, tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya, mulutnya tersekap.


Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat karena usaha Marta untuk memekik, benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya.


Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi, kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke belakang.


Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.


Astaga! Berhasil!


Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar, dia hendak memekik dan meronta lagi, namun aku telah siap. Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat genitalnya.


Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa, aku berbisik,


“Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi saya perkosa?”


Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma berujar sambil mengisak,


“Dodi, please.. Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya enggak akan bilang Vina. Beneran.”


Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku langsung saja menelusup ke selangkangannya. Marta tak bisa mengelak.


Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.


Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan ujung-ujung jari tengahku. Marta berusaha berontak, namun setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam vaginanya. Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku, sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.


“Jangan Dod,” pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. “Adik”-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.


Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.


Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepala penis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusaha berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung memegangi pinggulnya. Dan, kepala penisku pun masuk perlahan. Vagina Marta seperti berkontraksi. Marta tersadar,


“Jangan..” teriaknya atau terdengar seperti rintihan.


Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku. Kutekan sedikit lebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah ada di dalam vaginanya. Marta hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung. Kugoyangkan perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya. Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur lagi.


Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Marta masih mengenakan kaos rumah. Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa begitu halus. Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidak terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas perlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya. Marta hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.


Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut. Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Marta putih menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka kemejaku. Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relung vagina Marta.


Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya dengan lembut. Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Marta mendesah lepas, tak tertahan lagi.


Aku mulai mengencangkan goyanganku. Marta mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, “Ah.. ah..”


Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku.”Aaahh,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Marta. Ia sampai pada puncaknya. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan penisku berdenyut makin keras dan sering.


Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Marta membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan putingnya.


Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku, sementara denyut di penisku pun semakin hebat.


“Uhh,” aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringi muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.


Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, “Aahh”. Kemudian pelukannya melemas. Dia mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ejakulasiku. Marta terkulai di sofa, dan aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya. Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan di vaginanya.


Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.


Grreekk. Suara pagar dibuka. Vina datang! Astaga! aku dan Marta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang terlempar berserakan..

Cerita XXX Terbaru - Memek Lina Ipar Istriku








Nama Aku Yonar, aku adalah seorang lelaki yang sudah menikah, istriku mempunyai seorang kakak laki – laki yang telah beristri, istrinya sebut saja namanya linA, dengan linA dulu ketika kami masih sama2 pacaran, kami pernah dekat dan menjalin hubungan. Namun setelah kami sama2 menikah, kami menjauh, bahkan linA sangat menjaga jarak denganku. Jujur aku sendiri masih menyimpan hayal dengannya, tubuhnya memang kurang berisi, payudaranya juga tidak besar, tapi permainan sex nya luar biasa, libido yang besar membuatku sering terbayang dirinya. Sering pada suatu saat aku berusaha menggodanya, tapi sulit. lina dan suaminya (kakak istriku) tinggal mengontrak sebuah rumah kontrakan yang kecil tepat di seberang sebelah rumah mertuaku yang juga mertua dia.


Ketika aku berkunjung k rumah mertua ku otomatis aku juga pasti bertemu dengannya dan suaminya.


Suatu Ketika aku sedang berkunjung ke rumah mertuaku, tentunya dengan istri dan anakku, karena rumah mertuaku berada di luarkota tempat aku tingal, otomatis biasanya aku menginap. Hari Minggu kami disana, Aku bertemu dengan lina, kami salam dan berbasa basi seperti biasa, aku masih saja terpesona melihatnya, apalgi dia hanya pakai celana pendek dan kaos oblong tipis, aku berusaha berlama-lama bersalaman dengannya, tp dia buru2 melepasnya. Aku berhasrat sekali dengannya tapi segera kubuang jauh2 pikiran itu karena keluarga sedang berkumpul tidak mungkin itu trjadi.


Esok hari, subuh2 sekali istriku, kakaknya (suaminya lina), dan adik2nya, sudah bersiap2 berangkat acara keluarga sekaligu ziarah ke makam leluhurnya, mereka berangkat dengan Pamannya, Ibu dan seluruh keluarga. Hanya Aku putuskan tidak ikut karena masih cape dan malas. jadi hanya AKu dan Kakak Perempuan ibu mertua yang sudah sangat tua dan sulit berjalan yang tidak bisa ikut, Oh iya lina juga tidak ikut karena dia hari itu tidak libur. Sial sekali pikirku, kukiran pagi ini bisa melihat alin dan ada kesempatan untuk menggodanya.


Pagi itu keadaan rumah sudah sepi, semua sudah berangkat, kecuali aku dan uwa. tiba2 terdengar alin masuk dari pintu belakang dari arah kontrakannya, bertanya pada uwa “wa, saklar di kontrakan rusak wa, jadi air sama lampunya ga bisa nya nyala, mana lina harus kerja lagi, si mas sama yng lain udah berangkat lagi gada yang bisa dimintain tolong”. Mendengar itu ingin rasanya aku segera beranjak dari ruang tengah menawarkan bantuan, tapi sebelum aku bicara uwa sdh menimpali “Tuh ada ada Yonar, dia ga ikut, minta tolong aj ya”, mendengar itu aku langsung menimpali ” Udah sini Lin aku coba liat sapa tau bisa” ” Ngga usah ngerepotin” jawab lina sambil berbisik ” ntra macem2 lagi”. Pikirku tau aja dia kalau aku punya niat macem2, tapi demi jaga gengsi aku bilang “Ada-ada aja, gini aj deh, selagi aku betulin saklar dikontrakan mu, lina disni aja dulu sampe beres, mandi disni aja” Dari gerakgeriknya dia hendak menolak namun Uwa buru2 bilang ” ya udah sekarang cepat betulin Yo, Lina disni aja dulu”


Membawa Peralatn listrik, obeng, gunting dsb, lina menuntunku ke kontrakannya, sekaligus dia membawa perlengkapan mandinya untuk mandi di rumah mertua. Setelah Lina menerangkan masalahnya aku pun segera memperbaiki saklar kontraknya, dimana saklar ini sebagai penghubung listrik induk dengan listrik rumahnya, sementara Lina mandi di rumah mertua.


Sekitar 15 Menit sudah aku memperbaiki saklar di kontrakannya, Lina Pun belum juga selesai mandi. Sesekali aku bolak balik ke rumah mertua untuk mengambil beberapa keperluan, suatu kali ketika aku bolak balik, aku penasaran, jiwa nakal ku muncul, Hayalku membayangkan Lina yang sedang Bugil, tanpa sehelai benang pun ditubuhnya, terbayang tubuhnya dibasuh sabun, payudara dan vaginanya, pikiranku pun smkn nakal aplg setauku pintu kamar mandi disini tidak bisa tertutup sempurna sehingga ada bnyk celah untuk mengintip. .. Uuh.. ku intip Uwa sedang dikamarnya, mungkin tidur, maka hayalku memberanikan untuk Mengintip Lina yang sedang mandi, dari balik celah pintu yang rusak,.


Perlahan kuintip, wow kulihat lina menyamping, bugil seluruh tubuhnya dipenuhi busa – busa sabun, tangannya yang lentik mengusap perlahan toketnya, oh.. dia meremas2 toketnya sambil memejamkan mata, melihat ini kontolku tak kuasa makin menegang, aplagi kemudian aku dikagetkan dgn adegan berikutnya: Lina Mengusap vaginanya, memasukkan jarinya kedalam vaginanya, ah apakah dia sedang masturbasi? pikrku.. terus dia mengocok vaginanya sebari mendesah tak karuan, aku semakin tegang melihatnya, kontolku tak kuasa menegang, andai saya aku dapat menyetubuhinya.. . Sedang asik bermain dgn kelamin masing2, terdengar suara dari Dalam Ruang tengah: ” Liinn, kalau sudah mandinya, kesini dulu bentar ya..” lina yang sptnya sedang asik memainkan vagina terkaget lsg menjawab ” Iya Wa..” Begitupun dengan aku buru2 aku beranjak dari intipan ku dan segera kembali ke kontrakan lina meneruskan memperbaiki saklar.


Fyuhh.. benar2 tontonan yang membuat nafsu memuncak.. Pikiranku tidak bisa konsen memperbaiki saklar, pdhl aku sudah mau selesai. Ah kucoba hilangkan pikiran kotor itu dan kembali ke tugasku semula.


beberapa saat kemudian lina masuk ke rumah, habis mandi dengan (sayangnya) sudah menggunakan kaos dan celana pendek, padahal harapku dia hanya memakai handuk saja.


Seketika dia bertanya padaku ” belum selesai juga memperbaikinya? lama bnr” .. Aku jawab ” ya iyalah kan harus hati2, emangnya mau kalo nyetrum dan kebakaran”.. msh terbayang bagaimana adegan tadi kulihat di kamar mandi, maka muncul hasrat ku untuk menggodanya, menyetubuhi, atau bahkan memperkosanya.


Kulanjutkan tanyaku “udah mandinya Lin?” dgn agak sinis khasnya dia menjawab ” ya udah lah ngapain juga lama2″,


aku : “udah tuntas ya aktifitasnya di kamarmandi”


Lina: ” maksudnya? ya udah lah dah tau udh keluar kamar mandi berarti udah donk”


Aku: “yaa kirain aj ada yang masih nanggung”


Lina: Apaan sih, ga ngerti, udah ah cepetan benerin listriknya, aku mau ganti baju ni, susah kamarku kan gelap”


Aku: gelap bukan berarti ga bisa ngapain2 kan.. buktinya jadi tuh anakmu waktu gelap2 kan? hahahaha.. udah tuh dicoba listriknya, coba aj lampu ama airnya ..


LIna: iya aku coba..


sebari dia coba satu persatu stopkontak, lina melanjutkan pembicaraan ” iya dulu gelap2an enak si sebelum ada si Tina (anaknya) , sekarang ..uuhh.. dah bosen kali si angga (suaminya – kaka istriku) udah jarang, eh YOnar udah oke nih semua lampunya”


Aku: ahh kan banyak alternatif.. bisa sendiri atau cari bantuan lah… Syukurlah kalau sudah ok, dicoba juga airnya nyalain trs ganti baju kerja gih, ntr telat”


Lina: ahh alternatif apaan maksudnya yo… (sebari melirik nakal kearahku), bosennya jg kali kalau sendiri,, dah aku ke kamar mandi cek dulu,


Lina berlalu menuju kamar mandi diujung belakang kontrakannya, sebari aku mengikutinya dari belakang,


kalimat terakhir dari mulutnya membuat hasrat ku makin bergetar, “bosen sendiri” dalam hatiku, hayalku trs bermunculan, apakah aku perkosa saja ketika dia di kamarmandi? kubekap dari belakang meremas toketnya, memaksanya .. tapi kalau ketauan gmn? kalau lina berteriak kencang gmn, sedang dinding pemisah antar kontrakan di tempatnya tidak tebal, tak tahan rasanya ingin menjilat lehernya yang lnjang, menikmati langsing tubuhnya..


Hayalku sejenak terhenti oleh teriakan lina ” aduuhh yoo.. basah kuyup.. dah jalan lagi nih airnya.. tapi nyemprot banget..untung belum pake baju kerja..”


dengan segera aku menghampirinya ” ya bagus donk,, berarti dah jalan lagi, gada masalah lagi kan, baru disemprot sama air, gmn kalau semprotan yang kental..” goda ku..


Lina menjawab ” yaa kalau itu enak donk.. ” sebari dia membalikkan badan kea arah ku dan membuat mataku terbelakak,, air yang membasahi kaosnya, membuat lekuk tubuh dan payudaranya tercetak sempurna, dan yang membuatku menelan ludah adalah lina belum memakai bra!! ternyata sejak tadi dia hanya memakai kaos saja.. badanku makin gemetar.. kontolku makin ngaceng tak tertahan dibalik celana tidurku..


“heh.. melotot aj!! liatin apa ayoo… udah mau ganti baju kerja sekalian, tuh beresin tuh yang dalam celana di kamar mandi” sebari tertwa kecil keluar dari kamar mandi. dengan malu aku masuk kamar mandi segera beresin celana, ku keluarkan kontolku, sudah ngaceng sekali kontolku, tak tahan rasanya, apa aku onani saja pikirku, ah tidak, masa sih aku menyia-nyiakan kesempatan dengan lina, tak ada orang disni.. pikirku mengalir liar, sampai tanpa sadar, ternyata lina memperhatikan aku dari balik lubang pintu kamar mandi yang memang tidak tertutup, ..


“hayyo kenapa lin.. susah ni mau dituntasin, bantuin donk..” secepat itu aku langsung bicara sebari mengusap2 kontolku, dgn kelagapan lina beranjak pergi sebari bicara ” apaan sih, sendri aja gih, atau minta sama istrimu, udah ah ganti baju dulu ah udah mau kerja nih”


aku pun mngikutinya berjalan menuju kamar, kulihat dari luar, dikamarnya dia dudukdi ranjangnya spt termenung, dia hendak membuka bajunya tapi terhenti ketika tangannya menyentuh payudaranya sendiri, dia usap2nya, mungkinkah dia juga sebenarnya terangsang dan sedang ingin bercinta tapi dia gengsi untuk jujur padaku..


aku beranikan maksud ke kamar tidur kecilnya yang hanya cukup untuk satu ranjang dan sedikit ruang itu, dari belakang kubisikkan ditelinganya “aku kangen ih masa-masa kita dulu, aku kangen banget sama kamu, dah lama mendam rasa ini Lin”, dengan nada tinggi dia bilang ” Kamu masuk kamar orang ya ga sopan, ngomongnya ngawur ah, males ah, kita tuh udah sama2 nikah, dah punya anak lagi, inget tuh,..”


aku: kalau perasaan susah Lin (kupegang bahunya ku balikkan tubuhnya sehingga menghadapku), “aku sayang banget sama kamu lina, sering aku terbayang dirimu yang jadi istriku”..tak kuasa aku memandangnya wajahnya dan memandang kaos basahnya yang setengah terbuka, tercetak jelas payudara mungilnya


Lina: “inget .. kita udah … “


belum selesai dia bicara aku langsung kecup bibirnya, kulumat bibirnya kuat2.. aku berusaha mendekap tubuhnya, sebelum lina mendorongku, duduk menjauh dari aku, berusaha unutk menamparku namun dengan segera ku pegang tangannya, “aku sayang banget lin sama kamu, sekalian lah bantuin aku tuntasin ya..”


kuberanikan diri mendekatinya lagi tanpa melepas genggaman tanganku padanya, sebelah tanganku membelai rambut lurusnya, kurebahkan kepalaku, mulutku di telinganya, kubisikan “i luv u so much lin, please.. sekali ini aja, aku janji gakan jadi panjang, ..”


kukecup langsung daun telinganya, kujilat, lina menggelinjang, dia memejamkan mata, tanpa perlawanan, kuanggap itu tanda setuju atas permintaanku. kuciumi kujilati telinganya, kuberanikan menjalarkan lidahku tak hanya di sekitar telinga, menjalar ke pipinya menuju bibirnya, sekali lagi aku kecup bibirnya, kujilati, kusedot, kali ini tanpa perlawanan, meski dia masih tak menggerakan bibirnya, aku terus melumat bibirnya, nafsu sudah membara sejak tadi, kusogokkan lidahku kedalam mulutnya yg masih rapat, kupaksa masuk kedalam mulutnya, tak lama dia menyerah juga, kumainkan lidahku didalam mulutnya, menyentuh lidahnya, menjilati lidahnya, kurasakan dera nafasnya semakin kencang, kucekatkan tubuhnya, kulumat terus bibirnya yang mulai terbuka, sesekali membalas ciumanku perlahan.


aku mulai melepaskan genggaman tanganku, kupegang kepalanya sebari tetap menciuminya, sementara tanganku yang satu mengusap, menyentuh2 lehernya punggungnya, memainkan telinganya,


Ciuman itu berlangsung cukup lama, lama kelamaan lina mulai membalas ciumanku, dia mulai memainkan lidahnya, beradu dgn lidahku, mulutnya mulai berani melahapku, ciuman lahap dan kasarnya mulai nampak, desahan desahan nya mulai terasa trdengar ..Hmmm Hhh hsthhh… itu yang aku suka dan aku rindu darinya.. ciuman kami semakin panas, kedua tangannya mulai memelukku, satu tangannta mengacak2 rambutku, tubuhku mulai menempel dgn tubuhnya yang masih terbalut kaos yang basah.


Tanganku mulai berani menelusup kebalik kaosnya yang basah dan setengah terbuka, kuraih toketnya yang sedari tadi tercetak dibalik kaosnya, kuremas toketnya, AKKHHHHHHHHHH OOKHHHHHHH….OoHHhhhdsthh, erangan keras keluar dari mulutnya ketika ku remas toketnya, ku mainkan putingnya yang sudah mengeras,


Kubuka kaosnya yang basah, tanpa kesulitan, kutau sejak awal dia sudah tidak memakai bra, kujalarkan lidahku kelehernya, uhh HHsshtstthh.. lina tak hentinya mendesah tak karuan.. kulanjutkan juluran lidahku bibirku menciumi sampai toketnya lina yg masih terduduk di ranjang dan aku yang sudah setengah jojok di lantai, sebelah toketnya kujilati perlahan, sebelah kuremas dengan tanganku.. Hhhhhsthh.. kujilat toketnya perlahan memutar dari pinggir toketnya memuncak ke puting .. kutarik kencang2 putingnya, semua kulakukan bergantian kanan kiri, yang makin membuat lina nafsu nya membesar, kulanjutkan petualangan lidahku keperutnya


ku perosotkan celana tidurnya, ahhh … darahku serasa makin mendesir melihat langsung pemandangan tanpa CD, langsung kulihat vaginanya, Memeknya yang tadi hanya kulihat dari intipan di kamarmandi, kini didepana mataku dgn lina yang sudah berbugil ria. segera saja petualangan bibirku berlanjut di bibir memeknya lina. .OOhhh sedap sekali, aromanya semerbak habis mandi dicampur aroma cairan dari memeknya yang sudah becek sekali.. kulahap habis memeknya, kuciumi sekitarnya, kujulurkan lidahku masuk kedalam liang memeknya yang memang sudah longgar, kusogoh habis2n liang memeknya, lina menjerit kuat ” AHHHH oohhh… ughhh.. dibenamkan nya wajahku sedalam-dalamnya ke liang memeknya, tangannya benar2 mengacak-acak rambutku, mendorong kepala ke memeknya, sesekali mejenggut rambutku.. oohh uhh..


sedang asik memainkan memek lina, tiba2 tangannya mendorong kepalaku keluar “Lina udah ga tahan banget yon mau orgasme nih, tp gamau sekarang ya ” dia bilang. Aku hanya mengangguk dan berkata “apapun mau kamu sayang”


Lina mengangkat tubuh yang setengah jongkok untuk duduk disampingnya diranjangnya, “sekarang giliran lina” ucapnya, segera dgn kasarnya dia membuka kaosku, dikecup dan dilumatnya bibirku dgn liar, dipegangnya kepala erat2 dijilatinya pipiku bibirku, seluruh wajahku, telingaku dijilatinya kanan kiri, digitnya,, Akkhhhhhhhh Lin enak banget,, ughh,,,,,,, tanganku pun meraih toketnya meremas2nya, sebari bibir lina menjamahi wajahku, telingaku, leherku nyaris saja di cupangnya, sebelum aku melarangnya khawatir ketauan istriku.


Lina menjamahi tubuhku dengan liar, dadaku, perut buncitku, dia tarik puting susu ku yang berbulu, tangannya liar menjamahku, membuka celana pendekku, memerosatkannya berikut dgn CD ku, ko0ntolku sudah sangat , menegang kencang dan memerah.. Ahhh senyum liarnya lina sebari menatap liar padaku, dia menjulurkan lidahnya memainkan kepala kontolku. Akhhhh Linnn.. enak banget.. dia mengocok2 kontolku sebari menjilati ujung kontolku, dia berjongkok dilantai, memainkan kontolku, menghisapnya, naik turun, makin kencang makin kencang.. Ohh aku tak tahan lagi.. dijilatinya kontolku..


Dia kemudian mencabut mulutnya dari kontolku, dia berdiri menghadapku yang masih terduduk, kesempatan ini kupakai unutk menjilat lagi memeknya yang sudah sangat becek, meremas toketnya kuat2.. ahh indah sekali pemandangan ini tubuh lina berdiri dihadapanku, seolah dia sedang stripsis, bergerak menggelinjang karena rangsanganku ke dlm memek dan toketnya..


baru sebentar kumenikmati itu, lina mendorongku keras, sampai aku terlentang diranjangnya, ranjang tempat biasa dia bersetubuh dgn suaminya.


ucapnya ” Lina udah ga tahan yon’..


dia menaiki tubuhku diranjang, diarahkan memeknya kearah kontolku, Bleesss,,, aakhhhh Ugghhhhhhhhhh kami mengerang bersama-sama..


Lina menindihku.. women on top,, digerak2n tubuhnya… kami berciuman liar.. berulang kali dia berkata “udah gakuat lina ih..” .. aku berusahan membanting tubuhnya, membalik posisi, kali ini dia dibawah.. aku kocokkan kontolku semakin cepat dan kencang.. erangan lina udah tak tertahankan lagi.. “trs.. ayo dong…” ucapnya.. dia trs menggelinjang menggerakan bokongnya.. ” aku juga ga kuat lin” .. ayo dong kit bareng lagi..” tenaga lina begitu kuat mendorong kembali terguling mebalikkan posisi.. dia kembali diatas, kali ini dia duduk berkuda.. menggerak-gerakan pantatnya, tubihku bangun meraih toketnya.. darahku mendesir.. sekecap saja aku sedot toketnya.. meremas toketnya.. lian sudah tak kuasa hendak keluar.. AkhhhhhhhhhhOhhh YESsss……. uughhhhhhhhhhhhhhh ” lina keluar.. Ohhhhhhhhhhhh… Peluk erat 2 yon, gigit puting lina,” suaranya mengacau tak karuan..”‘akhhhhhhhhh… kelellllllllllllllluuaarrrrrrrrr…”””” … lina orgasme” tubuhnya semakin kuat mendekap, memeknya basah…


“Kamu curang yon… ga bareng” lina berbicara kacau sebari orgasme.. tubuhnya mulai melemas… kesempatanku membalikkan lagi tubuhnya.. kali ini kukocokkan kuat2 kontolku.. akhhhh.. aku keluar lin… “kucabut dan kubasahi tubuhn dan mulutnya…

Cerita XXX Terbaru - Nikmatnya selingkuh








Saya, sebut saja Ratna (23), seorang sarjana ekonomi. Usai tamat kuliah, saya bekerja pada salah satu perusahaan jasa keuangan di Solo. Sebagai wanita, terus terang, saya juga tidak bisa dikatakan tidak menarik. Kulit tubuh saya putih bersih, tinggi 163 cm dan berat 49 kg. Sementara ukuran bra 34B. Cukup bahenol, kata rekan pria di kantor. Sementara, suami saya juga ganteng. Rio namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya atau 26 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Rio orangnya pengertian dan sabar.





Karena sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih banyak setelah sepulang atau sebelum berangkat kerja. Meski begitu, hari-hari kami lalui dengan baik-baik saja. Setiap akhir pekan–bila tidak ada kerja di luar kota–seringkali kami habiskan dengan makan malam di salah satu resto ternama di kota ini. Dan tidak jarang pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.


Soal hubungan kami, terutama yang berkaitan dengan ‘malam-malam di ranjang’ juga tidak ada masalah yang berarti. Memang tidak setiap malam. Paling tidak dua kali sepekan, Rio menunaikan tugasnya sebagai suami. Hanya saja, karena suami saya itu sering pulang tengah malam, tentu saja ia tampak capek bila sudah berada di rumah. Bila sudah begitu, saya juga tidak mau terlalu rewel. Juga soal ranjang itu.Bila Rio sudah berkata, “Kita tidur ya,” maka saya pun menganggukkan kepala meski saat itu mata saya masih belum mengantuk. Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami–yang tidak terlalu kekar itu-dengan mata yang masih nyalang itu, saya sering-entah mengapa-menghayal. Menghayalkan banyak hal. Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok dan juga tentang ranjang. Bila sudah sampai tentang ranjang itu, seringkali pula saya membayangkan saya bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Seperti cerita Ani atau Indah di kantor, yang setiap pagi selalu punya cerita menarik tentang apa yang mereka perbuat dengan suami mereka pada malamnya. Tapi sesungguhnya itu hanyalah khayalan menjelang tidur yang menurut saya wajar-wajar saja. Dan saya juga tidak punya pikiran lebih dari itu. Dan mungkin pikiran seperti itu akan terus berjalan bila saja saya tidak bertemu dengan Karyo. Pria itu sehari-hari bekerja sebagai polisi dengan pangkat Briptu. Usianya mungkin sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit dan hitam.

Begini ceritanya saya bertemu dengan pria itu. Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tidak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria itu marah-marah.

“Anda tidak lihat jalan atau bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak pria berkulit hitam itu pada suami saya.

Mungkin karena merasa bersalah atau takut dengan gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami saya segera menyerahkan surat kendaraan dan SIM-nya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya akan memperbaiki semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu sepertinya masih marah. Ketika Rio menawari untuk mengantar ke rumahnya, ia menolak.

“Tidak usah. Saya pakai becak saja,” katanya.

Esoknya, Rio sengaja pulang kerja cepat. Setelah menjemput saya di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Karyo itu, berada pada sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Opel Blazer suami saya masuk. Terpaksalah kami berjalan dan menitipkan mobil di pinggir jalan.

Rumah kontrakan Pak Karyo hanyalah rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah banyak terkelupas, sementara kertas dan koran berserakan di lantai yang tidak pakai karpet.

“Ya beginilah rumah saya. Saya sendiri tinggal di sini. Jadi, tidak ada yang membersihkan,” kata Karyo yang hanya pakai singlet dan kain sarung.

Setelah berbasa basi dan minta maaf, Rio mengatakan kalau sepedamotor Pak Karyo sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang. Sepanjang Rio bercerita, Pak Karyo tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.

“Oh begitu ya. Tidak masalah,” katanya.

Saya tahu, beberapa kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Memandang Pak Karyo, saya bergidik juga. Badannya besar meski ia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya seperti besi yang bengkok-bengkok, kasar.

Karyo kemudian bercerita kalau ia sudah puluhan tahun bertugas dan tiga tahun lagi akan pensiun. Sudah hampir tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya sudah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tidak bercerita mengapa pisah dengan istrinya.

Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah beberapa hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya kemudian diberi tahu anggota polisi kalau penodong saya itu sudah tertangkap, tetapi barang-barang berharga dan HP saya sudah tidak ada lagi. Sudah dijual si penodong.

Saat mau pulang, saya hampir bertabrakan dengan Pak Karyo di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja ada orang di depan saya. Saya pun kaget dan berusaha mengelak. Karena buru-buru saya menginjak pinggiran jalan beton dan terpeleset. Pria yang kemudian saya ketahui Pak Karyo itu segera menyambar lengan saya. Akibatnya, tubuh saya yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Karyo. Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat dan besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya merasakan getaran itu. Tapi tak lama.

“Makanya, jalannya itu hati-hati. Bisa-bisa jatuh masuk got itu,” katanya seraya melepaskan saya dari pelukannya. Saya hanya bisa tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

Ketika Pak Karyo kemudian menawari minum di kantin, saya pun tidak punya alasan untuk menolaknya. Sambil minum ia banyak bercerita. Tentang motornya yang sudah baik, tentang istri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.

Mungkin karena seringkali diam bila bertemu dan ia pun makin punya keberanian, Pak Karyo itu kemudian malah sering datang ke rumah. Datang hanya untuk bercerita. Atau menanyai soal rumah kami yang tidak punya penjaga. Atau tentang hal lain yang semua itu, saya rasakan, hanya sekesar untuk bisa bertemu dengan berdekatan dengan saya. Tapi semua itu setahu suami saya lho. Bahkan, tidak jarang pula Rio terlibat permainan catur yang mengasyikkan dengan Pak Karyo bila ia datang pas ada Rio di rumah.

Ketika suatu kali, suami saya ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan, Pak Karyo malah menawarkan diri untuk menjaga rumah. Rio, yang paling tidak selama sepakan di Jakarta, tentu saja gembira dengan tawaran itu. Dan saya pun merasa tidak punya alasan untuk menolak.

Meski sedikit kasar, tapi Pak Karyo itu suka sekali bercerita dan juga nanya-nanya. Dan karena kemudian sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, saya pun tidak pula sungkan untuk berceritanya dengannya. Apalagi, keluarga saya tidak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya ceritakan soal desakan ibu mertua agar saya segera punya anak. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Karyo. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

“Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin saya bisa bantu,” katanya. Ia makin mendekat.

“Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.

“Mudah-mudahan saya bisa bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat dan sedikit diurut,” kata Pak Karyo pula.

Dengan pikiran lurus, setelah sebelumnya saya memberitahu Rio, saya pun pergi ke rumah Pak Karyo. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia juga masih pakai kain sarung dan singlet. Saya lihat matanya berkilat. Pak Karyo kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melalui kakeknya, dilakukan dengan pemijatan di bagian perut. Paling tidak tujuh kali pemijatan, katanya. Setelah itu baru diberi obat. Saya hanya diam.

“Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengap. Jendela kecil di samping ranjang tidak terbuka. Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang sudah menipis.

Pak Karyo kemudian memberikan kain sarung. Ia menyuruh saya untuk membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.

“Gantilah,” katanya ketika melihat saya masih bengong.

Inilah pertama kali saya ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.

“Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.

Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar dan keras itu di perut saya. Ia menyibak bagian bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut saya. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya melihat gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Rio.

“Ini dilepas saja,” katanya sambil menarik CD saya. Oops! Saya kaget.

“Ya, mengganggu kalau tidak dilepas,” katanya pula.

Tanpa menunggu persetujuan saya, Par Karyo menggeser bagian atasnya. Saya merasakan bulu-bulu vagina saya tersentuh tangannya. CD saya pun merosot. Meski ingin menolak, tapi suara saya tidak keluar. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya.

Tanpa bicara, Pak Karyo kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di bagian perut. Kedua paha saya yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya. Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris saya. Saya rasa ada getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut saya yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Karyo makin bersemangat.

“Ada yang tidak beres di bagian peranakan kamu,” katanya.

Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang saya itu. Saya merasakan ada kenikmatan di sana. Saya merasakan bibir vagina saya pun sudah basah. Kepala saya miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang tidak tertahankan.

Tangan kanan Pak Karyo makin berani. Jari-jari mulai memasuki pinggir liang vagina saya. Ia mengocok-ngocok. Kaki saya menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya. Meski tidak membuka BH, namun remasan tangannya mampu membuat panyudara saya mengeras. Uh, saya tidak tahu kalau kain sarung yang saya pakai sudah merosot hingga ujung kaki. CD juga sudah tanggal. Yang saya tahu hanyalah lidah Pak Karyo sudah menjilati selangkang saya yang sudah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Karyo.

Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasaran. Rio, suami saya, bahkan tidak pernah menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya. Tapi, jilatan Pak Karyo benar-benar membuat dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang kemudian digumulnya dengan kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih terbenam di selangkangan saya.

Benar-benar sensasi yang sangat mengasyikan. Dan saya pun tidak sadar kalau kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, lalu ada yang panas mengalir di vagina saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas. Saya lihat Pak Karyo menjilati rembesan yang mengalir dari vagina. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah saya alami. Pak Karyo naik ke atas ranjang.

“Kita lanjutkan,” katanya.

Saya disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung saya. Mulai dari pundah. Lalu terus ke bagian pinggang. Dan ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Karyo mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus dan vagina. Berjalan dengan lambat. Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dengan sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Terus terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.

Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk di antara lipatan pantat, saya hanya bisa melenguh. Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat kontol Pak Karyo itu. Besar dan hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya pun menghitam lebat.

Mulut saya sampai ternganga ketika ujung kontol Pak Karyo mulai menyentuh bibir vagina saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di vagina saya. Pak Karyo pun menekan dengan perlahan. Ia mengoyangnya. Bibir vagina saya seperti ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan kontol Pak Karyo. Hampir sepuluh menit Pak Karyo asik dengan goyangannya. Saya pun meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang sudah sama-sama telanjang, basah dengan keringat. Kuat juga stamina Pak Karyo. Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’.

Padahal, saya sudah kembali merasakan ujung vagina saya memanas. Tubuh saya mengejang. Dengan sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali. Orgasme yang kedua ini benar-benar terasa memabukkan. Liang vagina saya makin membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.

Saya hanya bisa diam saja ketika Pak Karyo masih menggoyang. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat. Kakinya menegang. Dengan makin menekan, ia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina saya. Saya tidak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh saya. Luar biasa permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dengan permainan Rio.

Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Karyo. Kami masih sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di Tawangmangu. Meski, kemudian Pak Karyo juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Rio. Dan saya yakin Rio juga tidak tahu samasekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Pak Karyo itu. Entah sampai kapan.

Cerita Selingkuh Terbaru - Istriku Selingkuh Di Kantor



Narti istriku nampak tanpa ragu saat menerima Arman. Sebagai Satpam kantorku memang Arman kerap aku suruh ke rumah apabila ada hal-hal yang biasanya terlupa tak terbawa ke kantor. Semula aku sama sekali tidak curiga. Perjalanan dari kantor ke rumah bolak-balik pada kondisi normal paling memakan waktu 2 jam. Atau pada saat jam-jam macet paling 3 jam. Namun tidak jarang Arman menghabiskan waktu seharian untuk sekedar mengambil dokumen atau surat-surat yang kuperlukan.


Alasannya, “Ibu mesti mencari-cari dulu di laci atau lemari bapak”.


Padahal semua dokumen dan surat-suratku berada jelas di atas meja kerjaku. Yaa, sudah.. Mungkin Arman menggunakan kesempatan tugas luar untuk main-main dulu di tempat lain.


Pada suatu kesempatan aku kembali menyuruh Arman untuk ke rumah. Satu bundle surat-surat dia atas meja kerjaku kuperlukan untuk memenuhi permintaan relasi bisnisku. Sangat penting. Aku pesan Arman agar terus balik ke kantor. Jangan pakai main-main ke tempat lain dulu.


Sesudah saya kasih uang transport secukupnya dia langsung berangkat. Sesuai janjiku pada relasi aku akan ketemu nanti pada jam makan siang. Aku perhitungkan sekitar 2 atau 3 jam lagi tepat pada jam makan siang aku sudah menerima bundle surat itu dari Arman.





30 menit sesudah keberangkatannya relasiku menelpon minta agar pertemuan makan siangnya di ajukan jam 11 siang itu, karena transaksi bisnis yang akan dilakukannya akan berlangsung lebih awal dari jadwal, sehingga semuanya mesti diajukan waktunya. Waahh.. Aku agak panik.


Akhirnya kuputuskan aku untuk mengambil sendiri surat-surat itu. Dengan mobilku aku pulang mendahului Arman. Rupanya kejadian inilah yang membuat aku jadi mengetahui adanya hubungan yang tidak selayaknya antara Arman dan istriku.


Saat aku memarkir mobil di seberang rumahku ternyata Arman telah sampai mendahului aku. Aku melihat sepatunya yang dia lepas berada depan di pintu. Sementara itu pintunya tertutup. Aku berpikir mungkin istriku sedang mencari surat-surat yang kuperlukan itu.





Namun tiba-tiba saja aku seakan mendapat firasat. Kenapa pintunya mesti ditutup? Dan aku langsung ingat akan Dik Narti istriku yang cantik dan sekaligus Arman petugas Satpamku yang boleh dibilang seorang lelaki yang tegap dan pasti menarik bagi libido para perempuan. Adakah firasatku ini benar??


Akhirnya kuputuskan untuk tidak langsung membuka pintu masuk. Aku akan sedikit berputar dan hati-hati melongok dari jendela ruang kerjaku. Haahh.. Kulihat ternyata Arman nampak menunggu sesuatu sambil duduk bengong di kursiku. Tak lama kemudian dari balik pintu muncul Dik Narti membawa secangkir teh. Nampak wajah-wajah mereka demikian cerah dan.. Kenapa sikap antara keduanya demikian nampak akrab?


Aku seperti tersambar petir melihat kejadian selanjutnya. Begitu Dik Narti menaruh cangkir tehnya ke meja tangan Arman langsung bergerak menyambut pinggulnya dan tanpa ragu Dik Narti duduk di pangkuannya. Bahkan lebih jauh lagi, Dik Narti langsung merangkul pundak Arman dan kini mereka saling berciuman dan berpagut. Demikian nikmat pagutan mereka. Dik Narti yang posisi wajahnya di atas memutar-mutarkan wajahnya pada wajah Arman di bawahnya yang juga mengimbangi dengan memutar-mutar pula. Mereka pasti sedang melepas lidah dan ludahnya untuk saling menerima dan memberi. Berkali-kali kudengar suara kecupan saat bibir-bibir mereka lepas sesaat.


Kemudian nampak tangan istriku bergerak melepasi kancing kemeja Arman. Demikian pula tangan Arman melepasi kancing blus Dik Narti. Kini tubuh Arman nampak setengah terbuka dan blus Dik Narti telah lepas jatuh ke lantai. Arman langsung nyungsep ke ketiak Dik Narti yang masih berkutang. Dia menciumi lembah ketiak istriku. Kusaksikan bagaimana Dik Narti menggeliat-geliat di atas pangkuan Arman menerima nikmatnya kecupan dan jilatan bibir dan lidah Arman. Merasa tak ada orang lain, tanpa ragu Dik Narti mendesah dan merintih menahan derita nikmat yang sedang melandanya.


Kemudian pada gilirannya kini Dik Narti turun dari pangkuan Arman. Dia sibak kemeja yang telah lepas kancingnya. Dia tengelamkan wajahnya ke dada Arman yang nampak sangat macho dengan otot-ototnya yang terawat bagus. Dan kini Armanlah yang melenguh dan mendesah. Dia raih dan elus-elus kepala Dik Narti yang semakin liar dengan mengemot-emot pentil susu di dada Arman.


Aneh, bahwa aku tidak bertindak apa-apa untuk menghentikan tingkah Dik Narti dan Arman yang tidak selayaknya ini. Dik Narti jelas telah melakukan selingkuh dengan lelaki lain. Sementara Arman telah merusak pagar rumah tangga boss-nya yang adalah aku selaku pimpinannya di kantor.


Dan yang lebih aneh lagi adalah aku. Kenapa diriku ini? Kini justru aku ingin menyaksikan ulah Dik Narti dan Arman jangan sampai terganggu. Aku ingin menyaksikan bagaimana wajah Dik Narti yang istriku ini menerima gelinjang syahwat birahi dari lelaki lain. Aku ingin menyaksikan saat-sat nanti Dik Narti dilanda orgasmenya. Aku ingin mendengarkan desahnya, atau racaunya, atau rintihannya. Aku ingin menyaksikan gelinjang tubuhnya saat menerima tusukkan erotis dari lelaki lain. Saat dia mesti bergoyang-goyang mengimbangi ayunan pompaan kontol lelaki lain pada lubang kemaluannya.

Aku juga ingin menyaksikan bagaimana Arman yang bukan suaminya ini memberi dan menerima ritual nikmat untuk dan dari Dik Narti istriku. Bagaimana sebagaimana yang sedang kusaksikan menerima jilatan dan sedotan bibir cantik Dik Narti pada pentil susunya. Aku juga ingin menyaksikan saat-saat kontolnya melepaskan spermanya pada kemaluan istriku. Pasti dekapan dan cakaran kuku istriku akan membekas dan melukai daging dan kulitnya yang kekar berotit itu.


Sementara itu ciuman istriku merambah turun ke perut Arman. Dengan menengadahkan wajahnya terdengar desis dan lenguh nikmat Arman menerima perlakuan Dik Narti ini. Dia kembali mengelusi dan sedikit mencabik rambut Dik Narti pertanada limpahan nikmat syahwat yang tak tertahankan. Tangannya juga nampak sedikit menekan. Rupanya Arman ingin istriku terus turun untuk menciumi bagian lebih bawah lagi.


Nampaknya istriku tak asing dengan apa yang diinginkan Arman. Jari tangannya yang meraih celana Arman, menarik resluitingnya dan merosotkan lepas ke bawah. Celana itu merosot hingga terlipat di betisnya.


Dalam gairah dan pesona nafsu birahinya Dik Narti kini menghadapi selangkangan berkancut atau celana dalam berwarna coklat. Yang nampak adalah bayangan batang gede melintang dari kanan ke kiri. Bayangan itu menggunung yang menggambarkan betapa kemaluan Arman memang luar biasa gede dan panjangnya. Mungkin inilah yang membuat istriku demikian bergairah menghadapi Arman Satpan kantorku itu.


Tap perlu lagi diminta, Dik Narti meneruskan jilatan dan kenyotannya turun ke tepian celana dalam Arman. Bulu-bulu yang mengawali wilayah yang paling menggairahkan istriku nampak terserak di batas tepian celana dalam itu.


Adegan berikutnya menampakkan kerakusan seorang perempuan selingkuh yang dengan liarnya membetot celana dalam lelaki yang bukan suaminya. Dengan gigitannya Dik Narti menarik lepas celana dalam Arman dari selangkangannya. Dia terus menggigit, sementara Arman mengikuti tarikan gigi Dik Narti. Diangkatnya kakinya kanan kemudian kiri hingga celana dalamnya bisa terlepas benar. Sebelum melemparnya ke lantai rupanya obsesi Dik Narti ingin terwujudkan pula. Diciuminya celana dalam itu, bahkan seakan dibekapkannya ke hidungnya sambil menarik nafas panjangnya.


Begitu terbebas dari kekangan celana dalamnya nampak kontol Arman langsung mencuat gagah. Bonggol kepalanya berkilat-kilat menahan tekanan darah yang memenuhinya. Lubang kencingnya nampak mekar menantang. Batangnya segede pentungan Satpam Arman yang tak pernah ketinggalan. Urat-urat kasar melingkar-lingkar mengitari batangan panjang itu. Tangan Dik Narti langsung meraih dan menggenggamnya. Matanya demikian birahi menyaksikan penuh pesona kontol Arman di tangannya itu. Mukanya mendekat dengan hidungnya terlebih dahulu yang mengendusi.


Tangan Arman langsung meraih kembali rambut Dik Narti,


“Isep Bu.. Jilati ya Buu.. Uucchh..” Arman menyambut bibir Dik Narti yang siap menelan bonggol kontolnya.


Namun itu belum dilakukan Dik Narti. Dia mulai dengan mencium kemudian mengangkat pepetkan ke perut Arman. Lidah dan bibirnya menjuilati dan mencium batangan berurat akar itu. Kepala Dik Narti nampak menggoyang untuk menangkap sudut-sudut tepat pada bantangan itu. Kemudian jilatannya melata hingga bijih pelir. Mulutnya mencakup biji itu dan mengulum-ulumnya. Seperti orang meriang terdengar suara rintih Arman bergetar dan berkesinambungan.


Aku tak lagi sanggup hanya menyaksikan. Aku juga membuka kancing celanaku dan kukeluarkan kemaluanku. Aku melakukan masturbasi. Daya khayalku langsung terbang membubung dalam nikmat elusan tangan sendiri. Aku membayangkan nikmat betapa Dik Narti begitu sesak mulutnya karena kontol gede Arman. Kubayangkan nikmatnya saat bibir Dik Narti menelan dan mengulum kontolnya. Kubayangkan pedih kulit kepalaku saat Arman menjambaki rambut kepala Dik Narti.


Setelah puas mendapatkan jilatan serta kuluman akhirnya Arman meraih lengan istriku untuk kembali duduk memunggungi dalam pangkuannya. Dik Narti dengan cepat melepasi sendiri rok bawahnya. Dalam pangkuan Arman dia membetulkan serta mengepas posisinya hingga kontol Arman persis di bawah bokongnya. Tangan Dik Narti memegang erat batang kontol itu dan menuntun agar tepat mendongkrak lubang kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam.


Dengan menyibak sedikit tepian celana dalam itu akhirnya kemaluan gede milik Arman itu berhasil menemukan lubang vagina Dik Narti. Desah dan lenguh kedua orang yang asyik masyuk itu mengantarkan masuknya kontol ke lubang vagina mereka. Arman cepat memindahkan tangannya memeluki tubuh telanjang istriku yang membelakanginya. Hidungnya kembali nyungsep serta mengenyot-enyot ketiak dan buah dada Dik Narti. Tangan-tangan Dik Narti nampak menggeliat ke atas dan berusaha meraih kepala Arman. Sementara ayunan telah langsung di mulai. Dik Narti menaik-turunkan pantatnya untuk memompakan kontol Arman ke lubang vaginanya. Sementara Arman dengan penuh kegatalannya menaik turunkan pantatnya menjemputi memek Dik Narti.


Itulah puncak perselingkuhan Dik Narti dengan Arman petugas Satpam kantorku. Genjotan yang terus nyambung dan bertubi mendekatkan saraf-sarah birahi mereka dan menggiring dera nafsunya menuju ejakulai Arman. Dan tak ayal pula orgasme Dik Narti telah berada di ambangnya.


Dengan riuh racau, desah dan rintihan keduanya akupun dengan pasti tergiring untuk lekas melepaskan spermaku. Aku mengkhayalkan seandainya sperma itu tumpah kemudian meleleh keluar dari bibir vagina istriku. Atau sperma itu tumpah muncrat-muncrat di mulut Dik Narti istriku. Khayal-khayalan itu mendongkrak syahwatku.


Dan akhirnya tanpa bisa ditahan Arman meremas buah dada ranum Dik Narti dengan kerasnya. Dan Dik Narti berteriak tertahan dilanda orgasmenya yang telah di ambang. Kedua orang berasyik masyuk ini tanpa hambatan melepaskan kontrolnya dan meraih puncak-puncak birahinya.


Nampak dari memek istriku Dik Narti ‘ndlewer’ mengalir cairan putih kental terbawa keluar masuk batang Kontol Arman. Mungkin berliter-liter. Sperma Arman seakan tak habisnya hingga melumuri lubang dan seluruh tepian memek Dik Narti.


Tiba-tiba birahiku cepat bangkit lagi saat melihat bagaimana seprma Arman ‘ndlewer’ dari vagina istriku. Betapa nikmatnya seandainya aku menjilati langsung sperma itu dari memek Dik Narti. Aku berpikir keras. Dan akhirnya dengan buru-buru dan tergetar aku bangkit menuju pintu. Aku menggedor-gedornya,


“Dik Nartii.. Mas pulang niihh.. Dik Nartii..”


Dor, dor, dorr.. Aku pukul-pukul daun pintu dan tak lama,


“Ah, Mas Gito, kok sudah pulang Mas. Ituu.. Ss.. Sii Arman baru saya suruh balik cepat ke kantor,” istriku membuka pintu, mungkin sekitar 3 atau 4 menit sesudah aku menggedor pintu.


Dan di belakangnya nampak Arman sedang mengepit bundel dokumen yang aku minta. Mereka berdua dengan cepat telah nampak berpakaian lengkap. Disamping juga nampak tegang ada yang kutandai, rambut Arman nampak belum nyisir, mungkin hanya ditarik dengan jari-jarinya dan pakaian Dik Narti nampak agak lusuh berantakan. Namun aku tidak memperlihatkan kecurigaanku sama sekali,


“Iya, Man. Lekas kamu balik kantor. Nih aku tambahin uang lagi kamu cari taksi. Nih surat-surat serahkan sekretaris. Bilang bahwa anak buah Pak Jarwo akan mengambil siang ini. OK? Nanti aku nyusul,” Nada bicaraku ini langsung menghilangkan ketegangan mereka. Aku benar-benar menunjukkan bahwa sediktpun aku tidak khawatir atau curiga pada mereka berdua.


Namun begitu Arman balik ke kantor aku langsung menggelandang Dik Narti ke ranjang pengantin kami. Aku langsung tubruk dan menciumi istriku yang sangat kucintai ini. Pasti Dik Narti heran akan ulahku. Tak biasanya pulang kantor langsung merangsek begini padanya.


Aku buka setengah paksa pakaiannya dan aku langsung menenggelamkan mukaku ke buah dada dan ketiaknya. Aku menjilati dan menciuminya. Masih sangat terasa adanya bau ludah Arman pada tubuh Dik Narti. Hal itu justru semakin merangsang birahiku.


Sesudah melepaskan rok Dik Narti tangan kananku langsung merabai kemaluannya. Aku langsung tangkap lengketan yang sangat banyak pada bibir dan lubang vaginanya itu. Amun yang aku pertanyakan justru,


“Aahh Dik Nartii.. Cepet sekali naik birahinya ya.. Lihat nih.. Sudah becek banget,” seakan tahuku bahwa becekan itu adalah cairan birahinya. Dik Narti memandang aku dengan matanya yang ayu sambil mengangguk-angguk setuju akan omonganku.


Dan aku tak lagi sabar. Ciuman di ketiak dan buah dadaku merambat meluncur turun dan langsung melabuh ke wilayah selangkangannya. Tanpa ragu aku julurkan lidahku. Aku menjilati dan menyedoti selangkangannya. Kembali bau keringat Arman kurasakan pada selangkangan Dik Narti.


Dan akhirnya kudapatkan. Aku tergetar saat menyaksikan betapa menggelembung ranum memek istriku ini. Betapa jembut, bibir dan liang memek istriku belepotan oleh sperma Arman. Nampak gumpalan besar meleleh dari vagina Dik Narti. Sungguh sangat menggairahkan hasrat syahwatku. Aku mengenduskan hidung, menjulurkan lidahku dan mendekat.


Aku mulai menyedot dan menjilati sperma Arman itu. Kurasakan begitu kental dan legitnya sperma Satpam-ku yang terasa ada asin dan sikit pahit-pahit ini. Kusedot lengket-lengket di jembutnya, di bibirnya. Dengan rasa penuh rakus kujilat hingga bersih yang meleleh dari kemaluan istriku Dik Narti.


Pada kesempatan itu aku juga berhasil meraih orgasme dan ejakulasiku. Dengan menjilati cairan kental sperma Arman di seputar memek Dik Narti istriku aku merapatkan serta menggoyang pompa menggesek-gesekkan kemaluanku pada betisnya. Dan akhirnya tak terbendung pula air maniku muncrat membasahi kasur dan betis yang sangat seksi ini. Aku langsung lunglai.


Aku tak sempat untuk melakukan penetrasi pada lubang vagina istriku karena mesti cepat balik ke kantor. Kutinggalkan Dik Narti tergolek telanjang di ranjang pengantin kami. Entah apa yang terpikir pada benak Dik Narti melihat ulahku ini.

Cerita Selingkuh Terbaru - Memek mertua



Saya bernama Bambang, usia pada tahun 2000 ini 37 tahun, pekerjaan wiraswasta. Menikah dengan Linda pada tahun 1993, saat ia berusia 29 tahun. Kami telah dikarunia dua orang anak yang lucu-lucu. Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan pengalaman saya dengan ibu mertua saya.




Saya memiliki minat seksual khusus terhadap wanita yang lebih tua. Bahkan minat khusus tersebut telah ada sejak saya remaja. Saat remaja, saya ingat bahwa ketika saya bermasturbasi, saya lebih suka membayangkan tante-tante tetangga rumah, teman-teman ibu saya, ibu guru, maupun wanita-wanita lain yang masih terbilang ada hubungan keluarga. Boleh dikata, saya sangat jarang menjadikan cewek-cewek sebaya saya sebagai obyek fantasi ketika bermasturbasi. Minat tersebut rupanya terus bertahan sampai saat ini, walaupun saya sudah berkeluarga. Salah satu wanita yang saya minati dan sering menjadi obyek fantasi seksual saya sampai saat ini adalah ibu mertua saya sendiri yang bernama Nani. Saat ini beliau berusia 57 tahun. Ibu mertua saya ini sudah menjanda sejak tahun 1984, karena bapak mertua saya meninggal karena kecelakaan waktu itu.

Rasa tertarik terhadap ibu mertua saya ini sudah timbul pada saat saya pertama kali diperkenalkan oleh pacar (isteri) saya padanya di tahun 1990. Sejak saat itu, saya sering menjadikan beliau menjadi obyek fantasi saat saya bermasturbasi. Begitu besarnya rasa tertarik saya pada beliau, sehingga pernah terlintas pikiran untuk kawin dengan beliau entah bagaimana caranya. Tetapi pikiran tersebut tidak saya kembangkan lebih lanjut karena saat itu beliau sudah menopause, sedangkan saya masih memiliki keinginan untuk memiliki anak. Lagipula, pasti akan banyak masalah dan hambatan untuk mewujudkan pikiran tersebut. Karena itulah akhirnya, saya tetap melanjutkan hubungan saya dengan Linda, sehingga akhirnya kami menikah pada tahun 1993.

Saat baru menikah, kami tinggal bersama ibu mertua saya ini. Karena 3 orang kakak isteri saya yang telah menikah telah memiliki rumah sendiri-sendiri, sedangkan 2 orang adik isteri saya sedang kuliah di Bandung dan Yogyakarta. Kami tinggal di rumah ibu mertua saya tersebut, selain untuk menemani beliau, juga karena kondisi keuangan kami saat itu belum memadai untuk memiliki rumah sendiri.

Selama kurang lebih satu tahun tiga bulan tinggal bersama mertua inilah, ada sejumlah pengalaman baru, yang makin menunjang saya untuk menjadikan beliau menjadi obyek fantasi favorit saya. Pengalaman baru yang maksud misalnya adalah saya sering mendapat kesempatan melihat paha mertua saya, entah ketika nonton TV, atau sedang bersih-bersih rumah, dan sebagainya. Cukup sering juga saya memergoki beliau keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Bahkan pernah sekali waktu saya beruntung dapat melihat payudara ibu mertua saya tersebut dalam keadaan telanjang ketika ia membuka lilitan handuknya hendak berganti baju. Sayangnya beliau masih memakai celana dalam. Pernah juga saya melihat puting payudaranya menyembul keluar daster secara tidak sengaja ketika beliau nonton TV sambil tidur-tiduran di sofa.

Pengalaman-pengalaman baru seperti itulah yang semakin memperkuat minat seksualku pada beliau. Terkecuali, pada saat-saat kesadaran moral dan religius saya sedang baik, saya sering memiliki keinginan untuk dapat menyetubuhi ibu mertua saya tersebut. Namun, saya tidak tahu caranya. Yang dapat saya lakukan saat itu hanyalah berfantasi saja. Bahkan cukup sering, ketika saya bersetubuh dengan isteri saya, yang ada dalam kepala saya adalah bersetubuh dengan ibu mertua saya tersebut. Selain berfantasi, paling jauh saya hanya memiliki kesempatan untuk cium pipi dan memeluk ibu mertua saya tersebut pada tiga kesempatan. Yaitu pada saat hari ulang tahun beliau, ulang tahun saya dan ulang tahun perkawinan saya dengan Linda.

Pada kesempatan di hari ulang tahun saya, ketika menerima cium dan peluk dari ibu mertua, untuk pertama kalinya saya merasakan himpitan payudara beliau di dada saya. Pengalaman ini sangat berkesan pada diri saya. Saya ingat bahwa pada malam itu, saya sangat bernafsu dan menggebu-gebu memesrai isteri saya. Saat itu, saya sanggup sampai empat kali mengalami ejakulasi ketika kami bersetubuh. Padahal, biasanya paling banyak saya hanya tahan dua kali saja. Yang pasti, ketika memesrai isteri saya, yang terbayang saat itu adalah ibunya.

Pengalaman lebih jauh yang saya alami dengan ibu mertua saya tersebut terjadi ketika saya dan isteri saya menemani beliau ke Semarang untuk menghadiri pernikahan salah satu keluarga dekat dari almarhum bapak mertua saya. Ketika itu kami menginap di rumah keluarga calon pengantin. Karena terbatasnya tempat, kami hanya mendapat satu kamar dengan satu tempat tidur ukuran besar. Terpaksa, malam itu kami tidur bertiga di tempat tidur itu. Posisinya adalah, saya di sisi kiri, isteri saya di tengah dan ibu mertua saya di sisi kanan. Lampu kamar dimatikan ketika kami berangkat tidur. Ketika terbangun pagi harinya, saya kemudian sadar bahwa isteri saya sudah tidak ada di tempatnya. Sambil berbaring saya berusaha mencari isteri saya di kamar, tetapi saya tidak dapat menemukannya. Ter-populer.com Secara samar-samar saya hanya melihat tubuh ibu mertua tidur memunggungi saya. Saya langsung menduga bahwa isteri saya pasti ke kamar mandi sebagaimana kebiasaannya. Isteri saya terbiasa secara teratur bangun jam 04.30 dan kemudian ke kamar mandi untuk buang air besar dan mandi. Saat itu timbul pikiran kotor dan nakal dalam otak saya. Apalagi pada pagi hari biasanya si “Adik Kecilku” berdiri tegak dan kencang. Pikiran saya saat itu tidak jauh dari situ.

Dengan bergaya masih dalam keadaan tidur, saya bergeser mendekat ke arah tubuh mertua saya. Setelah cukup dekat (bahkan hampir rapat tapi belum bersentuhan), dengan gaya tidak sengaja saya menggeser tangan kiri saya ke atas pinggul mertua saya. Tidak ada reaksi apa-apa dari mertua saya. Dengan lembut dan perlahan kemudian saya mulai menggerakkan telapak tangan saya di pinggul mertua saya. Juga tidak ada reaksi atau perubahan apa-apa. Saya kemudian memberanikan diri untuk mengelus-elus pantat mertua saya. Empuk dan halus rasanya. Saya juga dapat merasakan tekstur dari bagian pinggir celana dalamnya. Yang terpikir dalam otak saya saat itu, akhirnya ada juga yang jadi kenyataan khayalanku. Sementara itu, si “Adik kecilku” semakin tegak dan keras saja, dan kemudian secara refleks tangan kanan saya mulai meraba-raba si “Adik Kecilku”. Ingin rasanya saya mengarahkan tangan kiri saya ke arah kemaluan ibu mertua saya. Namun, saat itu saya takut ibu mertua jadi terbangun. Karena itu, dengan susah payah saya berusaha menahan keinginan tersebut.

Kemudian, masih dalam gaya pura-pura masih tidur saya merapat dan memeluk ibu mertua dari belakang. Posisi ibu mertua saya kemudian agak berubah dari memunggungi saya menjadi lebih telentang, walaupun wajahnya masih ke arah yang berlawanan dengan posisi di mana saya berada. Ibu mertua saya saat itu terlihat masih dalam keadaan tidur yang cukup nyenyak. Boleh jadi karena perjalanan dengan kereta api sore-malam itu cukup melelahkannya.

Kemudian saya menggeser tangan kiri saya ke arah payudara kiri ibu mertua saya. Merasa tidak ada reaksi apa-apa kemudian saya memberanikan diri untuk menggerak-gerakkan tangan kiri saya. Dengan berhati-hati sekali saya mengusap-usap payudara beliau. Saya kemudian sadar bahwa beliau tidak memakai BH ketika saya merasakan bahwa puting payudara beliau semakin menonjol dan sangat terasa di telapak tangan saya.

Lebih jauh lagi, kemudian secara lembut saya sesekali meremas payudara beliau secara perlahan sekali. Nafsu saya semakin meninggi, dan rasanya debaran jantung saya saat itu sangat cepat dan agak keras. Saya terkejut dan takut sekali ketika tiba-tiba tubuh beliau bergerak dan menjadi lebih menghadap tubuhku. Mati aku, pikirku saat itu. Tapi kemudian saya sadar bahwa beliau masih tetap tidur, karena nafasnya masih teratur. Hanya ketika membalikkan badannya saja tampaknya beliau agak menghela nafas.

Dengan posisi yang berhadapan, saya dapat melihat dengan cukup jelas, walaupun agak samar-samar juga karena gelap, mulut ibu mertua saya agak sedikit terbuka. Melihat pemandangan yang demikian, apalagi memang bibirnya itu sering saya khayalkan untuk saya kecup, kemudian dengan tekanan ringan saya menempelkan bibir saya ke bibir beliau. Tapi kemudian saya tidak tahan lagi, dan secara refleks kemudian bibir saya mulai mengulum bibir beliau, seraya tubuh saya bergerak menindih tubuhnya dan menekan kemaluan saya ke pahanya. Kejadian yang terjadi dalam waktu yang singkat tersebut akhirnya menyebabkan ibu mertua saya terbangun. Dimulai dengan suatu lenguhan pendek, “Nngghh..”, kemudian beliau terjaga dan kemudian mengatakan, “Heh! apa-apaan ini?”. Saya kaget setengah mati waktu itu, dan kemudian menggeser tubuh saya ke samping tubuh ibu mertua saya.

Ibu mertua saya kemudian mengangkat punggungnya dan duduk di tempat tidur. Setelah beberapa saat kemudian dia berkata.

“Apa yang kamu lakukan pada Ibu Bang? Koq kamu sudah mulai berani kurang ajar?”.

Setelah terdiam beberapa saat, kemudian sayapun bangkit duduk dan mengatakan.

“Maaf Bu, saya kira tadi ibu itu Linda”.

“Lho, Lindanya mana?”, tanya ibu mertuaku.

“Tidak tahu Bu”, jawabku. Kemudian ibu mertua saya turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamar. Saya hanya dapat duduk diam sambil menutup kedua muka saya dengan tangan saya. Ibu mertua saya kemudian berkata.

“Jangan sampai terjadi lagi ya Bang kejadian seperti tadi. Ibu tidak suka. Itu tidak baik dan dosa”.

“Maaf Bu, saya sungguh-sungguh minta maaf, karena saya tadi tidak sadar. Habis, biasanya kalau pagi kami biasanya melakukan hubungan suami-isteri sih Bu”, jawabku dengan refleks sambil bangun dari tempat tidur untuk sungkem kepada ibu mertua saya itu.

“Mau ngapain kamu?”, sergah ibu mertuaku.

“Mau sungkem Bu”, jawabku.

“Tidak perlu, yang penting jangan sampai terjadi lagi”, kata ibu mertuaku sambil membalikkan tubuh dan berjalan menuju pintu. Akhirnya aku duduk terpekur sendiri di tempat tidur.

Sambil membaringkan kembali tubuhku, terbayang lagi kejadian-kejadian yang baru terjadi itu. Seingat saya, ada tiga hal yang paling berkesan untuk saya saat itu. Pertama, makin menonjolnya puting payudara ibu mertuaku ketika tanganku mengusap-usapnya. Kedua, persentuhan lidah kami ketika aku mengulum bibirnya yang menyebabkan beliau terbangun. Ketiga, lirikan sepintas ibu mertuaku ke arah selangkanganku ketika beliau berbalik hendak keluar kamar. Yang pasti, semua yang baru saja terjadi saat itu merupakan perwujudan dari sebagian khayalanku terhadap ibu mertuaku. Selain itu, dorongan nafsu yang belum tersalurkan saat itu rasanya agak menyiksa diriku.

Tidak berapa lama kemudian isteriku masuk ke kamar. Terlihat rambutnya agak basah, tampaknya ia baru keramas.

“Ibu mana?”, tanya isteriku.

“Keluar” jawabku secara singkat seraya bangkit dari tempat tidur menuju ke arah pintu. Kemudian aku mengunci pintu dan berjalan ke arah isteriku yang sedang berdiri di depan meja rias.

“Mau ngapain sih Mas pakai dikunci segala”, tanya isteriku.

“Biasa, kayak kamu nggak tahu saja. Aku sedikit horny nih”, jawabku sambil memeluk dia dari belakang.

“Jangan ah Mas.., nggak enak, ini kan di rumah orang”, katanya.

Tapi aku terus aja meraba-raba dan menciumi tengkuk dan lehernya dari belakang.

“Aku nggak tahan nih.., lagian kan masih pada tidur”, kataku.

Akhirnya isteriku mulai menyambut serangan-seranganku. Dia tahu persis bahwa aku bisa marah dan uring-uringan seharian kalau lagi ingin banget tapi dia tidak mau.

“Tapi yang cepetan saja ya Mas..”, katanya. Mendengar jawabannya, saya menjadi semakin aktif. Saya menekan tubuhnya sehingga ia membungkuk dan meletakkan tangannya di atas kursi meja rias yang ada di kamar itu. Kemudian saya singkapkan dasternya ke pinggang dan saya tarik celana dalamnya sampai lepas. Batang kemaluan saya yang memang sudah mulai basah sejak kejadian dengan ibu mertua saya tadi kugesek-gesekkan ke selangkangannya. Setelah cukup licin, akhirnya dalam posisi dia berdiri membungkuk dan saya di belakangnya, kumasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, seperti biasanya. Dengan nafsu yang sudah tertahan-tahan sejak tadi, saya tidak dapat bertahan lama, dan kemudian akhirnya ejakulasi sambil membayangkan bahwa yang saya setubuhi itu adalah ibu mertua saya. Ah seandainya saja benar-benar beliau..

Sepulang dari Semarang, untuk beberapa waktu interaksi antara saya dengan ibu mertua saya agak sedikit kaku. Kadang-kadang saya merasa kikuk kalau harus berinteraksi dengan beliau. Kekakuan itu akhir berkurang dengan berjalannya waktu. Apalagi kemudian kami dapat mulai mencicil rumah kami sendiri, dan akhirnya pindah dari rumah mertua saya itu ketika salah satu adik isteri saya lulus dan kembali tinggal di Jakarta. Sejak kejadian di Semarang itu saya semakin sering memfantasikan ibu mertua saya maupun memimpikannya ketika tidur. Cukup sering saya merasa khawatir kalau-kalau saya mengigau dan isteri saya mengetahui bahwa saya mendambakan ibunya.

Setelah tinggal di rumah sendiri, saya dapat dikatakan hampir tidak pernah lagi mendapat “pemandangan-pemandangan indah” dari tubuh mertua saya itu. Dan cukup sering saya kangen padanya. Setelah berjalan beberapa waktu akhirnya saya mulai mengenal internet dan berlangganan pada salah satu internet provider yang cukup baik. Dari pengalaman menjelajah internet inilah saya mendapatkan beberapa ide sehubungan dengan ketertarikan saya terhadap ibu mertua saya. Salah satu ide yang ingin saya wujudkan saat itu adalah membuat rekaman video dari ibu mertua saya. Untuk itu, terpaksa saya menabung untuk membeli kamera video.

Setelah kamera video terbeli, saya menjadi rajin mengabadikan acara-acara keluarga dengan kamera tersebut. Tentunya juga dengan harapan bahwa ada “pemandangan-pemandangan indah” dari tubuh ibu mertua saya yang dapat saya rekam. Tapi harapan tidak dapat terwujud. Malah pemandangan indah yang sempat terekam adalah paha-paha dari kakak ipar saya yang bernama Susi dan adik ipar saya yang bernama Lena. Dengan hasil itu, saya harus puas bermasturbasi hanya dengan memandangi rekaman ibu mertua saya dalam pakaian lengkap. Tapi saya tetap saja dapat terangsang hanya dengan pemandangan yang demikian. Khususnya pada rekaman yang memperlihatkan ibu mertua saya memakai kebaya. Lekuk-lekuk tubuhnya masih dapat terlihat, walaupun ibu mertua itu dapat dikatakan agak kurus. Pinggul besar yang terbungkus kain itulah yang menggemaskan untuk dicubit. Saya mencoba untuk menjajaki kemungkinan untuk merekam di kamar mandi di rumah mertua saya itu, tapi saya tidak dapat menemukan lokasi-posisi yang aman. Sempat terpikir oleh saya untuk memiliki kamera kecil (Spy Camera) yang sudah mulai banyak ditawarkan di internet saat itu. Namun karena harganya mahal, apalagi dapat dikatakan hanya didistribusikan di Amerika, pikiran itu tidak dikembangkan lebih lanjut.

Kesempatan untuk membuat rekaman yang lebih menarik akhirnya datang juga. Dalam rangka pernikahan adik ipar saya, kami (saya dan isteri saya) menginap di rumah mertua saya, karena isteri saya saat itu sedang hamil tua dan agak melelahkan kalau harus pulang pergi Depok-Rawamangun. Ketika menginap itulah timbul ide untuk meletakkan kamera di dalam tasnya sedemikian rupa sehingga lensanya masih tetap dapat merekam gambar di hadapannya. Dalam rencana saya, tas kamera itu akan saya letakkan di kamar ibu mertua saya, yang kebetulan juga dapat dikatakan sudah menjadi kamar umum di rumah itu, siapa saja anak-anaknya yang datang pasti masuk dulu ke kamar tersebut, dan bisanya juga menaruh barang-barang di kamar itu.

Setelah mencoba-coba, maka untuk kamuflase saya mempergunakan kain bekas kaos yang berbentuk jaring (jala-jala) yang kebetulan berwarna hitam. Berdasarkan coba-coba itu, saya mendapatkan kesimpulan bahwa kain tersebut tidak akan terekam kalau posisi lensa pada tele (jarak jauh) bukan wide (jarak dekat). Semakin dekat akan semakin jelas terlihat kain tersebut, bahkan dapat dikatakan mendominasi gambar yang terekam. Semakin tele, maka akan semakin kabur gambar kain tersebut. Hasil pertama dan hasil kedua yang saya dapat sangat mengecewakan saya, karena rekaman yang dapatkan hanyalah gambar jala-jala dari kaos hitam tersebut dan beberapa bayangan yang bergerak-gerak.

Setelah pengalaman yang pertama, tadinya saya mengira bahwa yang menjadi penyebab karena saya menyetel lensa pada posisi wide. Namun, karena pada hasil yang kedua, rekaman yang saya dapatkan juga sama, saya menjadi sedikit penasaran. Setelah dipelajari, akhirnya saya mengetahui penyebabnya. Yakni, karena saya mempergunakan sarana autofocus dari kamera tersebut. Akhirnya setelah saya menyetelnya ke posisi manual, hasil yang saya dapatkan cukup memuaskan saya.

Pada usaha yang ketiga, akhirnya saya mendapat rekaman yang menggambarkan ibu mertua saya sedang berganti baju. Sayangnya, saya tidak mendapat rekaman yang menunjukkan kemaluannya. Hanya payudaranya saja yang telanjang. Namun setidaknya, hasil ini cukup untuk bahan atau alat bantu kalau saya mengkhayalkannya. Apalagi kalau dibandingkan dengan gambar jala-jala hitam.

Rekaman yang saya dapatkan ketika hari H dari perkawinan adik ipar saya sungguh mengejutkan dan sangat menyenangkan saya. Karena setelah saya periksa, banyak sekali terdapat pemandangan sangat indah yang hanya berbaju dalam yang didapatkan. Payudara-payudara indah dan montok walaupun sebagian besar masih memakai BH maupun paha-paha mulus bukan hanya milik ibu mertua saja, tapi juga milik kakak-kakak ipar, beberapa sepupu isteri saya dan juga beberapa orang tantenya, yang mempergunakan kamar tersebut sebagai kamar ganti dan dandan. Yang paling mengejutkan, dalam rekaman tersebut terdapat pemandangan tubuh bulat polos tanpa sehelai benangpun milik Mbak Uci, isteri dari kakak ipar saya. Walaupun tubuhnya mungil, tapi proporsional dan menawan. Apalagi rambut di selangkangannya terlihat hitam dan lebat sekali. Setelah memiliki rekaman tersebut, obyek fantasi seksual saya pun bertambah. Bukan hanya semata-mata ibu mertua saya, tetapi juga merembet ke yang lain. Tapi, ibu mertua tetap merupakan obyek yang paling favorit.

Sebagaimana umumnya laki-laki lain, saat-saat menanti kelahiran anak pertama merupakan saat-saat yang penuh kekhawatiran. Demikian juga pada diri saya. Selain khawatir terhadap keselamatan calon anak, saya saat itu juga khawatir dengan keselamatan isteri saya. Kekhawatiran yang saya ingat adalah bagaimana nasib bayi saya kalau ibunya tidak selamat (meninggal). Di tengah kekhawatiran seperti itupun sempat terpikir oleh saya seandainya isteri saya meninggal, maka saya berniat untuk menjadi ibu mertua saya menjadi isteri saya. Kalau ingat-ingat hal itu, perasaan saya sukar tidak keruan. Tetapi akhirnya, isteri saya dapat melahirkan dengan selamat.Ter-populer.com Berhubung anak pertama, maka isteri saya pun meminta ibu mertua saya untuk menemaninya dan mengajarinya terlebih dahulu bagaimana merawat bayi. Artinya, isteri saya meminta ibu mertua saya untuk sementara waktu menginap di rumah kami setidaknya selama seminggu pertama sejak kepulangan dari rumah sakit.

Selama ibu mertua menginap di rumah kami tersebutlah saya dapat menambah koleksi rekaman video saya. Dan yang terutama adalah rekaman beliau telanjang bulat di kamar mandi. Kamera video itu sendiri sudah saya pasang di kamar mandi satu hari sebelum isteri saya pulang dari rumah sakit. Kamera saya letakkan di balik kaca satu arah (one way mirror). Setelah saya memiliki kamera video (handy cam), saya memang membuat rak khusus di kamar mandi yang tebalnya kira-kira 12 cm. Di mana salah satu bagiannya adalah kaca selain bagian-bagian untuk menyimpan handuk, dan perlengkapan mandi lainnya. Di balik kaca tersebut terdapat ruang kosong untuk menaruh kamera video. Isteri saya tidak mengetahui bahwa kaca yang saya pergunakan adalah kaca one way mirror. Untuk mengurangi resiko ketahuan, bagian belakang kaca tersebut (dalamnya) saya cat hitam agar selalu lebih gelap dari bagian depan dari kaca. Di depan kaca tersebut (bagian atasnya) saya pasang lampu neon 15 watt untuk lebih mendukung persembunyian kamera video saya sekaligus juga sebagai sumber listrik jika saya menaruh kamera di balik kaca tersebut. Untuk itu saya memasang satu stop kontak di balik kaca tersebut. Karena ketebalannya, di rak itu kamera video hanya dapat diletakkan secara menyamping (lensa tidak langsung berhadapan dengan kaca), sehingga untuk dapat merekam situasi di kamar mandi, maka masih diperlukan satu alat tambahan yang namanya Video Mirror Scope, yang fungsinya adalah merekam gambar ke samping lensa kamera (bukan ke depan kamera). Alat saya dapatkan melalui teman yang pulang dari Amerika ke Indonesia. Kalau tidak salah belinya di ADORAMA di West 18 th Street New York. Harganya sekitar 40 US$. Keberadaan dan fungsi alat itu sendiri saya ketahui dari Majalah Video Maker.

Ide untuk membuat rak dan membeli alat tambahan tersebut terutama disebabkan karena saya juga ingin memiliki rekaman video isteri saya ketika dia telanjang bulat. Jangankan telanjang bulat, masih memakai pakaian dalam saja ia marah-marah ketika saya mencoba memvideonya. Selain itu, ketidakmungkinan mewujudkan ide memasang kamera video di kamar mandi di rumah mertua saya, akhirnya saya wujudkan di rumah sendiri. Sejujurnya, pada awalnya tidak pernah terbayang bagi saya kalau pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk merekam ibu mertua saya. Apalagi sampai berhari-hari.

Hasil rekaman tersebutlah yang saya pergunakan sebagai bahan masturbasi di hari-hari selanjutnya. Khususnya, ketika saya dan isteri saya tidak dapat melakukan hubungan suami-isteri karena dia baru melahirkan. Tanpa saya sadari sepenuhnya, rekaman-rekaman tersebut justru membuat saya semakin tergila-gila pada ibu mertua saya. Bahkan ketika melihat rekaman yang menunjukkan belahan pantat beliau, yaitu ketika ia membungkuk mengambil sabun yang terjatuh, wowww.., mantap! Disuruh menciumi pantatnya pun rasanya saya mau melakukannya dengan senang hati. Pokoknya, menjadi semakin tergila-gila..

Kira-kira satu minggu beliau menginap di rumah kami dan kemudian kembali ke rumahnya di Rawamangun. Setelah itu, tidak terlalu banyak perubahan atau kemajuan yang saya dapatkan. Paling-paling, koleksi video bertambah ketika lahir anak saya yang kedua. Itupun cuma satu hari beliau menginap di rumah kami. Tapi meskipun demikian aku merasa cukup puas dengan kehadiran ibu mertuaku di sampingku.

Disqus for lences gaul